Mengenal
Sosok Karl Marx dalam Perspektif Sosiologi
Oleh:
Sahrul Anwar
Karl
Marx lahir di Trier, Prussia (kini Jerman), pada 5 Mei 1818. Ayahnya berprofesi
sebagai pengacara sekaligus seorang rabi Yahudi, beberapa tahun kemudian
berpindah agama, masuk agama Kristen Protestan. Kemungkinan besar hal ini
dilakukannya agar ia dapat menjadi pegawai negeri, tepatnya notaries. Ibunya
baru menyusul delapan tahun kemudian , yang mungkin menunjukkan bahwa ia
sebenarnya tidak ingin berpindah agama. Bisa jadi begitu mudahnya ayah Karl
Marx berpindah agama menjadi alasan utama mengapa Karl Marx tidak pernah
meminati urusan-urusan keagamaan.(Suseno, 1999:46).
Karl
Marx bukan sosiolog sebagaimana Max Weber dan Georg Simmel, para pakar
mengemukakan bahwa Marx lebih dianggap sebagai ekonom daripada sosiolog.
Karyanya lebih fokus menyoroti cara manusia, negara, pasar, dan kapital (modal)
saling terkait satu sama lain daripada membahas masyarakat dan kehidupan sosial
secara spesifik. Meskipun begitu, gagasan dan pemikiran Karl Marx yang tertuang
dalam karya-karyanya tidak sedikit yang bersifat sosiologis. Bahkan kita harus
mengakui bahwa Karl Marx adalah pemikir masyhur yang karya-karyanya sangat luas
dan multidisipliner.
Pada
Tahun 1841, Marx memperoleh gelar doktor dari Universitas Berlin yang ketika
itu sangat dipengaruhi oleh pemikiran hegel, corak pemikiran hegel yaitu
menempatkan rasionalitas dan kebebasan sebagai nilai tertinggi. Setelah lulus,
Karl Marx menjadi penulis di surat kabar berhaluan radikal dan liberal. Hanya
dalam kurun waktu sepuluh bulan, ia diangkat menjadi kepala editor.
Tulisan-tulisan Marx pada saat itu membahas ide-ide yang akan terus ia
kemukakan sepanjang hidupnya, yakni meliputi demokrasi, humanisme, serta
kapitalisme.(Arisandi, 2015:44).
Marx
menikah pada tahun 1843 dan segera meninggalkan Jerman untuk mencari atmosfer
yang lebih liberal di Paris, Perancis. Di sana ia terus menganut gagasan
Hegelian, hanya saja dengan cara yang lebih praksis, seperti ekonom dan
politik—tidak berkutat pada level filsafat dan intelektual. Di sana, ia juga
bertemu dengan orang yang akan menjadi sahabat, donator, serta kolaborator
sepanjang hidupnya, yaitu Friedrich Engels. (Bachtiar, 2013-124).
Karena
beberapa tulisannya meresahkan pemerintah setempat, Marx diusir oleh pemerintah
Perancis. Pada tahun 1845, ia memutuskan pindah ke Brussels, Belgia. Di sana
pemikiran radikalnya mulai tumbuh sejalan dengan keaktifannya sebagai anggota
gerakan revolusioner internasional. (Johnson, 1986:125).
Pada
tahun 1846 Marx dan Engels bertolah menuju Inggris. Tidak lama setelah itu,
mereka membentuk panitia urusan surat-menyurat, supaya dapat mempertahankan
kontak dengan kaum sosialis Perancis, Jerman, dan Inggris. ia juga bergabung
dengan Communist League (Liga
Komunis), suatu organisasi revolusioner yang bermarkas di London. Hasilnya
adalah Communist Manifesto Manifesto
Komunis) yang terbit pada tahun 1848. (Arisandi, 2015:44). Karya monumental
tersebut ditandai oleh slogan politik terkenal yang berbunyi, “kaum pekerja di
seluruh dunia, bersatulah!”. (Marx, 1965:1).
Karl
Marx hidup miskin selama bertahun-tahun dan hampir tidak mampu bertahan hidup
engan sedikitnya pendapatan dari hasil tulisannya dan bantuan dari Engels. Pada
tahun 1864, Marx terlibat dalam aktivitas politik dan bergabung dengan gerakan
pekerja internasional. Namanya semakin terkenal karena keterlibatannya dalam
gerakan buruh, sekaligus penulis buku Das
Kapital. (Johnson, 1986:127).
Disintegrasi
yang dialami gerakan buruh itu terjadi pada tahun 1876 yang diikuti kegagalan
sejumlah pergerakan revolusioner ditambah penyakit yang dideritanya menandai
akhir karier Marx. Secara berturut-turut, istri Marx meninggal pada tahun 1881
dan anak perempuannya setahun kemudian. Marx sendiri meninggal pada 14 Maret
1883.
Karl
Marx tidak pernah menyebut dirinya sebagai seorang sosiolog. Namun,
karya-karyanya yang begitu luas juga mencakup sosiologi di dalamnya. Dalam studi
sosiologi, Marx memunculkan teori-teori seperti masyarakat kapitalis, konflik,
kelas sosial, perubahan sosial dan alienasi.
Salah
satu teori Karl Marx yang fundamental adalah masyarakat kapitalis. Marx
menawarkan teori tersebut berdasarkan pandangannya mengenai hakikat manusia. Marx
setuju bahwa pada dasarnya manusia itu tidak bisa terlepas dari kegiatan
produksi. Artinya, untuk bertahan hidup, manusia perlu bekerja dengan cara
mengolah suatu hal termasuk alam. Upaya tersebut menghasilkan makanan (pangan),
pakaian (sandang), serta tempat tinggal (papan). Menurut Marx tiga kebutuhan
dasar manusia tersebut harus terpenuhi sebelum kebutuhan lainnnya.
Produktivitas
merupakan cara alamiah untuk mengekspresikan dorongan kreativitas dasar
manusia. Selain itu, dorongan dasar tersebut diekspresikan secara bersama-sama
dengan orang lain. Hal tersebut menyiratkan bahwa sifat dasar manusia adalah di
bidang produksi serta hidup bersosialisasi. Mereka perlu bekerja sama untuk
bertahan hidup dan merealisasikan setiap kebutuhan dan keinginannya tersebut.
(Ritzer, 2012:41).
Seiring
dengan berjalannya waktu, sifat alamiah tersebut terhapus oleh sebuah sistem
yang bernama Kapitalisme. Kapitalisme pada dasarnya adalah serangkaian struktur
yang menjadi penghalang antara seorang individu dan proses produksi, produk
dari proses itu. Pada akhirnya, kapitalisme bahkan memecah belah diri
individu-individu lainnya. Hal tersebut merupakan pengertian konsep dasar alienasi (keterasingan). (Ritzer, 2012:41-42).
Marx
memaparkan teori materialisme historis setelah ia mendapatkan inspirasi dari
konsep materialisme dialektis yang diusung Hegel. Dalam hal ini, Hegel
menyatakan bahwa terdapat aspek-aspek berlawanan dari setiap individu. Akhirnya,
dua aspek yang berlawanan itu akan menghasilkan hal baru, atau dikenal dengan
istilah tesis, antitesis, dan sintesis. (Suseno, 1999:47-48).
Berdasarkan
hukum dialektika Hegel, Marx juga meyakini bahwa masyarakat telah berkembang
melalui beberapa tahap. Misalnya, masyarakat berpradaban primitif, yakni tidak
mengenal kepemilikan. Kemudian, masyarakat berkembang menjadi kapitalis yang
mengenal kepemilikan. Pada tahap inilah Marx hidup dan mengkritisi hal
tersebut.
Di dalam
perubahan dari masyarakat primitif menuju masyarakat kapitalis, terdapat proses
dialektis yang disebut sebagai materialisme historis. Marx menggunakan konsep materialisme
historis untuk mmenjelaskan keadaan masyarakat dari dulu sampai tiba di zaman
Marx. Karena materi oleh Marx diartikan sebagai keadaan ekonomi, maka teorinya
juga disebut analisis ekonomi terhadap sejarah (economic interpretation of
history). (Arisandi, 2015:46).
Menurut
Marx, diatas basis ekonomi, pasti berkembang suatu struktur yang terdiri dari
kebudayaan, ilmu pengetahuan, konsep-konsep hukum, kesenian, agama, serta ideologi.
Perubahan sosial-politik masyarakat disebabkan oleh pergeseran dalam basis
ekonomi, yakni pertentangan atau kontradiksi antara kepentingan-kepentingan
dengan tenaga-tenaga produktif. Adapun lokomotif perkembangan masyarakat adalah
pertentangan antar kelas sosial. (Budiarjo, 2003:81).
Marx
percaya bahwa masyarakat kapitalis adalah biang kehancuran dari sistem sosial yang ada. Hal ini
disebabkan orang miskin tetap akan bertahan dengan kemiskinannya, sementara
orang kaya dan kalangan pemilik modal dapat terus menikmati hidup nyaman dan
mengonsumsi hasil kerja keras pekerja. Masyarakat kapitalis juga menimbulkan
pertentangan kelas, yakni antara kaum pekerja atau proletar dengan pemilik
modal atau kaum kapitalis.
Menurut
Marx, jika manusia menempuh proses produksi—dalam arti berkarya dan
menghasilkan sesuatu yang bernilai—maka sudah sepantasnya ia dapat menikmati
jerih payah yang ditempuhnya. Sayangnya, hal seperti itu tidak mungkin terjadi
di dalam sistem kapitalisme. Apa pun yang dilakukan oleh buruh tidak bisa
mereka nikmati sendiri. Terdapat penghalang
antara buruh dengan hasil yang diproduksinya. Penghalang itu tentu saja
adalah sistem kapitalisme.
Selain
sebagai penghalang antara individu dengan pekerjaannya, sistem kapitalisme juga
menghalangi interaksi dengan orang lain. Dalam masyarakat kapitalis, harga diri
individu ditentukan oleh kelasnya. Jika nerasal dari kelas pekerja maka
martabatnya hanya sampai di situ. Jika berasal dari kelas pemilik modal atau
borjuis maka secara otomatis derajatnya tinggi. Bagi Marx, hubungan seperti ini
selalu menyimpan potensi konflik yang dapat meledak setiap waktu layaknya bom
waktu. Dan inilah penjelasan lebih rinci mengenai konsep alienasi yang dikemukakan Marx.
Para
buruh kehilangan kebebasan individual karena telah dirampas oleh sistem yang
bersifat koersif. Mereka tidak memiliki waktu, tenaga, serta keinginan sendiri
karena dipenjara oleh sistem yang diterimanya sebagai sebuah kenyataan. Padahal,
menurut Marx sistem ini bisa dicegah.
Para
pemilik modal yang sedikit tidak mungkin dapat menguasai kaum buruh yang
jumlahnya sangat banyak. Kecuali dalam sistem kapitalisme. Oleh karena itu,
Marx mendorong masyarakat agar sistem itu diruntuhkan secepat mungkin. Masyarakat
kapitalis yang melahirkan kelas-kelas sosial harus segera diakhiri untuk
digantikan dengan sistem yang lebih berpihak kepada kaum proletar. Sistem itu
dikenal dengan sistem komunisme. Marx sebagai seorang ilmuwan sekaligus
membantu meruntuhkan kapitalisme dengan cara memupuk kesadaran antarkelas.
(Arisandi, 2015:49).
Dalam
buku Das Kapital, Marx menjelaskan
secara rinci betapa rumitnya hubungan antara borjuis dengan proletar. Bahkan,
kerumitan hubungan itu juga berimbas pada ketidakadilan dalam pembagian
keuntungan. Teori ekonomi Karl Marx tentang nilai lebih (surplus value) menjelaskan bahwa sekeras apa pun buruh bekerja, hal
itu tidak akan mampu membuatnya kaya dan sejahtera. Sebaliknya, pemilik modal
yang hanya mengeluarkan modal dan sedikit keringat bisa terus menikmati hasil
kerja buruh. (Arisandi, 2015:47).
Ketidakadilan
tersebut menurut Marx harus diubah. Masyarakat kapitalis yang disekat oleh
kelas harus diruntuhkan. Sebagai gantinya perlu dibentuk masyarakat tanpa
kelas. Tidak ada kepemilikan pribadi dalam masyarakat ini. Artinya, tidak ada
orang miskin dan kaya, pihak yang dikuasai dan menguasai, serta kelompok yang dieksploitasi
dan mengeksploitasi. Masyarakat tanpa kelas disebut komunisme-sosialisme. Konsep
inilah yang menurut marx menjadi jawaban dari pertentangan kelas dalam
masyarakat kapitalis. Komunisme-sosialisme ini sekaligus menjadi sintesis
menurut logika dialektis Hegel yang dianut Marx. (Ritzer, 2012:40-41).
Di dalam
pembukaan buku The Manifesto of Communist
Party, Marx mengatakan, “ada hantu yang tengah bergentayangan di Eropa,
yaitu Komunisme.” Hantu inilah yang memang sengaja dihidupkan olehnya. Marx
sebenarnya tidak terlalu terobsesi untuk mendirikan negara sosial. Ia justru
lebih banyak membantu mewujudkan keruntuhan kapitalisme. Iaa yakin bahwa
konflik dan kontradiksi dalam kapitalisme secara dialektis akan mengarah pada
kehancuran. (Ritzer, 2012-42).
Itulah
sketsa pemikiran Karl Marx yang sebenarnya lahir dari kondisi sosial pada
masanya. Marx begitu terobsesi untuk membuktikan bahwa masyarakat kapitalis
adalah penyebab dari ketimpangan sosial
dan alienasi manusia. Marx menganalisis kenyataan dan struktur sosial
tidak lebih dari sekedar dinamika di sekitar kegiatan produksi manusia.
Marx
menawarkan revolusi sebagai solusi sekaligus negara sosialis sebagai tujuannya.
Setelah bertahun-tahun, tujua yang dicita-citakan menurut gambaran ideal Marx
tidak pernah tercipta. Dalam titik ini maka sangat beralasan jika para pakar
kemudian menyebut cita-cita karl Marx hanya utopia belaka.
Teori
Karl Marx memang lebih terfokus kepada aspek ekonomi dan politik. Namun, bukan
berarti Marx tidak menyentuh pembahasan mengenai kehidupan sosial sama sekali.
Marx menggunakan analisis sosial sebagai pengantar bagi teori besar ekonomi
politiknya. Sekalipun posisinya dalam dunia sosiologi masih samar-samar,
setidaknya Marx berusaha menggambarkan masyarakat sebagaimana ia yakini dan
pikirkan. Hal itu tentu saja memberikan perspektif berbedan dan ikut memperkaya
studi sosiologi.
DAFTAR
PUSTAKA
Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi Klasik dan Modern 1. Jakarta:
Gramedia, 1986.
Arisandi,
Herman, Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh
Sosiologi Dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD, 2015.
Ritzer,
George, Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik
Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2012.
Suseno,
Frans, Magnis, Pemikiran Karl Marx Dari
Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia, 1999.
Bachtiar,
Wardi, Sosiologi Klasik. Bandung: ROSDAKARYA,
2013.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar