Mengenal Sosok Karl Marx dalam Perspektif Sosiologi
Oleh: Sahrul Anwar

Karl Marx lahir di Trier, Prussia (kini Jerman), pada 5 Mei 1818. Ayahnya berprofesi sebagai pengacara sekaligus seorang rabi Yahudi, beberapa tahun kemudian berpindah agama, masuk agama Kristen Protestan. Kemungkinan besar hal ini dilakukannya agar ia dapat menjadi pegawai negeri, tepatnya notaries. Ibunya baru menyusul delapan tahun kemudian , yang mungkin menunjukkan bahwa ia sebenarnya tidak ingin berpindah agama. Bisa jadi begitu mudahnya ayah Karl Marx berpindah agama menjadi alasan utama mengapa Karl Marx tidak pernah meminati urusan-urusan keagamaan.(Suseno, 1999:46).
Karl Marx bukan sosiolog sebagaimana Max Weber dan Georg Simmel, para pakar mengemukakan bahwa Marx lebih dianggap sebagai ekonom daripada sosiolog. Karyanya lebih fokus menyoroti cara manusia, negara, pasar, dan kapital (modal) saling terkait satu sama lain daripada membahas masyarakat dan kehidupan sosial secara spesifik. Meskipun begitu, gagasan dan pemikiran Karl Marx yang tertuang dalam karya-karyanya tidak sedikit yang bersifat sosiologis. Bahkan kita harus mengakui bahwa Karl Marx adalah pemikir masyhur yang karya-karyanya sangat luas dan multidisipliner.
Pada Tahun 1841, Marx memperoleh gelar doktor dari Universitas Berlin yang ketika itu sangat dipengaruhi oleh pemikiran hegel, corak pemikiran hegel yaitu menempatkan rasionalitas dan kebebasan sebagai nilai tertinggi. Setelah lulus, Karl Marx menjadi penulis di surat kabar berhaluan radikal dan liberal. Hanya dalam kurun waktu sepuluh bulan, ia diangkat menjadi kepala editor. Tulisan-tulisan Marx pada saat itu membahas ide-ide yang akan terus ia kemukakan sepanjang hidupnya, yakni meliputi demokrasi, humanisme, serta kapitalisme.(Arisandi, 2015:44).
Marx menikah pada tahun 1843 dan segera meninggalkan Jerman untuk mencari atmosfer yang lebih liberal di Paris, Perancis. Di sana ia terus menganut gagasan Hegelian, hanya saja dengan cara yang lebih praksis, seperti ekonom dan politik—tidak berkutat pada level filsafat dan intelektual. Di sana, ia juga bertemu dengan orang yang akan menjadi sahabat, donator, serta kolaborator sepanjang hidupnya, yaitu Friedrich Engels. (Bachtiar, 2013-124).
Karena beberapa tulisannya meresahkan pemerintah setempat, Marx diusir oleh pemerintah Perancis. Pada tahun 1845, ia memutuskan pindah ke Brussels, Belgia. Di sana pemikiran radikalnya mulai tumbuh sejalan dengan keaktifannya sebagai anggota gerakan revolusioner internasional. (Johnson, 1986:125).
Pada tahun 1846 Marx dan Engels bertolah menuju Inggris. Tidak lama setelah itu, mereka membentuk panitia urusan surat-menyurat, supaya dapat mempertahankan kontak dengan kaum sosialis Perancis, Jerman, dan Inggris. ia juga bergabung dengan Communist League (Liga Komunis), suatu organisasi revolusioner yang bermarkas di London. Hasilnya adalah Communist Manifesto Manifesto Komunis) yang terbit pada tahun 1848. (Arisandi, 2015:44). Karya monumental tersebut ditandai oleh slogan politik terkenal yang berbunyi, “kaum pekerja di seluruh dunia, bersatulah!”. (Marx, 1965:1).
Karl Marx hidup miskin selama bertahun-tahun dan hampir tidak mampu bertahan hidup engan sedikitnya pendapatan dari hasil tulisannya dan bantuan dari Engels. Pada tahun 1864, Marx terlibat dalam aktivitas politik dan bergabung dengan gerakan pekerja internasional. Namanya semakin terkenal karena keterlibatannya dalam gerakan buruh, sekaligus penulis buku Das Kapital. (Johnson, 1986:127).
Disintegrasi yang dialami gerakan buruh itu terjadi pada tahun 1876 yang diikuti kegagalan sejumlah pergerakan revolusioner ditambah penyakit yang dideritanya menandai akhir karier Marx. Secara berturut-turut, istri Marx meninggal pada tahun 1881 dan anak perempuannya setahun kemudian. Marx sendiri meninggal pada 14 Maret 1883.
Karl Marx tidak pernah menyebut dirinya sebagai seorang sosiolog. Namun, karya-karyanya yang begitu luas juga mencakup sosiologi di dalamnya. Dalam studi sosiologi, Marx memunculkan teori-teori seperti masyarakat kapitalis, konflik, kelas sosial, perubahan sosial dan alienasi.
Salah satu teori Karl Marx yang fundamental adalah masyarakat kapitalis. Marx menawarkan teori tersebut berdasarkan pandangannya mengenai hakikat manusia. Marx setuju bahwa pada dasarnya manusia itu tidak bisa terlepas dari kegiatan produksi. Artinya, untuk bertahan hidup, manusia perlu bekerja dengan cara mengolah suatu hal termasuk alam. Upaya tersebut menghasilkan makanan (pangan), pakaian (sandang), serta tempat tinggal (papan). Menurut Marx tiga kebutuhan dasar manusia tersebut harus terpenuhi sebelum kebutuhan lainnnya.
Produktivitas merupakan cara alamiah untuk mengekspresikan dorongan kreativitas dasar manusia. Selain itu, dorongan dasar tersebut diekspresikan secara bersama-sama dengan orang lain. Hal tersebut menyiratkan bahwa sifat dasar manusia adalah di bidang produksi serta hidup bersosialisasi. Mereka perlu bekerja sama untuk bertahan hidup dan merealisasikan setiap kebutuhan dan keinginannya tersebut. (Ritzer, 2012:41).
Seiring dengan berjalannya waktu, sifat alamiah tersebut terhapus oleh sebuah sistem yang bernama Kapitalisme. Kapitalisme pada dasarnya adalah serangkaian struktur yang menjadi penghalang antara seorang individu dan proses produksi, produk dari proses itu. Pada akhirnya, kapitalisme bahkan memecah belah diri individu-individu lainnya. Hal tersebut merupakan pengertian konsep dasar alienasi (keterasingan). (Ritzer, 2012:41-42).
Marx memaparkan teori materialisme historis setelah ia mendapatkan inspirasi dari konsep materialisme dialektis yang diusung Hegel. Dalam hal ini, Hegel menyatakan bahwa terdapat aspek-aspek berlawanan dari setiap individu. Akhirnya, dua aspek yang berlawanan itu akan menghasilkan hal baru, atau dikenal dengan istilah tesis, antitesis, dan sintesis. (Suseno, 1999:47-48).
Berdasarkan hukum dialektika Hegel, Marx juga meyakini bahwa masyarakat telah berkembang melalui beberapa tahap. Misalnya, masyarakat berpradaban primitif, yakni tidak mengenal kepemilikan. Kemudian, masyarakat berkembang menjadi kapitalis yang mengenal kepemilikan. Pada tahap inilah Marx hidup dan mengkritisi hal tersebut.
Di dalam perubahan dari masyarakat primitif menuju masyarakat kapitalis, terdapat proses dialektis yang disebut sebagai materialisme historis. Marx menggunakan konsep materialisme historis untuk mmenjelaskan keadaan masyarakat dari dulu sampai tiba di zaman Marx. Karena materi oleh Marx diartikan sebagai keadaan ekonomi, maka teorinya juga disebut analisis ekonomi terhadap sejarah (economic interpretation of history). (Arisandi, 2015:46).
Menurut Marx, diatas basis ekonomi, pasti berkembang suatu struktur yang terdiri dari kebudayaan, ilmu pengetahuan, konsep-konsep hukum, kesenian, agama, serta ideologi. Perubahan sosial-politik masyarakat disebabkan oleh pergeseran dalam basis ekonomi, yakni pertentangan atau kontradiksi antara kepentingan-kepentingan dengan tenaga-tenaga produktif. Adapun lokomotif perkembangan masyarakat adalah pertentangan antar kelas sosial. (Budiarjo, 2003:81).
Marx percaya bahwa masyarakat kapitalis adalah biang  kehancuran dari sistem sosial yang ada. Hal ini disebabkan orang miskin tetap akan bertahan dengan kemiskinannya, sementara orang kaya dan kalangan pemilik modal dapat terus menikmati hidup nyaman dan mengonsumsi hasil kerja keras pekerja. Masyarakat kapitalis juga menimbulkan pertentangan kelas, yakni antara kaum pekerja atau proletar dengan pemilik modal atau kaum kapitalis.
Menurut Marx, jika manusia menempuh proses produksi—dalam arti berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bernilai—maka sudah sepantasnya ia dapat menikmati jerih payah yang ditempuhnya. Sayangnya, hal seperti itu tidak mungkin terjadi di dalam sistem kapitalisme. Apa pun yang dilakukan oleh buruh tidak bisa mereka nikmati sendiri. Terdapat penghalang  antara buruh dengan hasil yang diproduksinya. Penghalang itu tentu saja adalah sistem kapitalisme.
Selain sebagai penghalang antara individu dengan pekerjaannya, sistem kapitalisme juga menghalangi interaksi dengan orang lain. Dalam masyarakat kapitalis, harga diri individu ditentukan oleh kelasnya. Jika nerasal dari kelas pekerja maka martabatnya hanya sampai di situ. Jika berasal dari kelas pemilik modal atau borjuis maka secara otomatis derajatnya tinggi. Bagi Marx, hubungan seperti ini selalu menyimpan potensi konflik yang dapat meledak setiap waktu layaknya bom waktu. Dan inilah penjelasan lebih rinci mengenai konsep alienasi yang dikemukakan Marx.
Para buruh kehilangan kebebasan individual karena telah dirampas oleh sistem yang bersifat koersif. Mereka tidak memiliki waktu, tenaga, serta keinginan sendiri karena dipenjara oleh sistem yang diterimanya sebagai sebuah kenyataan. Padahal, menurut Marx sistem ini bisa dicegah.
Para pemilik modal yang sedikit tidak mungkin dapat menguasai kaum buruh yang jumlahnya sangat banyak. Kecuali dalam sistem kapitalisme. Oleh karena itu, Marx mendorong masyarakat agar sistem itu diruntuhkan secepat mungkin. Masyarakat kapitalis yang melahirkan kelas-kelas sosial harus segera diakhiri untuk digantikan dengan sistem yang lebih berpihak kepada kaum proletar. Sistem itu dikenal dengan sistem komunisme. Marx sebagai seorang ilmuwan sekaligus membantu meruntuhkan kapitalisme dengan cara memupuk kesadaran antarkelas. (Arisandi, 2015:49).
Dalam buku Das Kapital, Marx menjelaskan secara rinci betapa rumitnya hubungan antara borjuis dengan proletar. Bahkan, kerumitan hubungan itu juga berimbas pada ketidakadilan dalam pembagian keuntungan. Teori ekonomi Karl Marx tentang nilai lebih (surplus value) menjelaskan bahwa sekeras apa pun buruh bekerja, hal itu tidak akan mampu membuatnya kaya dan sejahtera. Sebaliknya, pemilik modal yang hanya mengeluarkan modal dan sedikit keringat bisa terus menikmati hasil kerja buruh. (Arisandi, 2015:47).
Ketidakadilan tersebut menurut Marx harus diubah. Masyarakat kapitalis yang disekat oleh kelas harus diruntuhkan. Sebagai gantinya perlu dibentuk masyarakat tanpa kelas. Tidak ada kepemilikan pribadi dalam masyarakat ini. Artinya, tidak ada orang miskin dan kaya, pihak yang dikuasai dan menguasai, serta kelompok yang dieksploitasi dan mengeksploitasi. Masyarakat tanpa kelas disebut komunisme-sosialisme. Konsep inilah yang menurut marx menjadi jawaban dari pertentangan kelas dalam masyarakat kapitalis. Komunisme-sosialisme ini sekaligus menjadi sintesis menurut logika dialektis Hegel yang dianut Marx. (Ritzer, 2012:40-41).
Di dalam pembukaan buku The Manifesto of Communist Party, Marx mengatakan, “ada hantu yang tengah bergentayangan di Eropa, yaitu Komunisme.” Hantu inilah yang memang sengaja dihidupkan olehnya. Marx sebenarnya tidak terlalu terobsesi untuk mendirikan negara sosial. Ia justru lebih banyak membantu mewujudkan keruntuhan kapitalisme. Iaa yakin bahwa konflik dan kontradiksi dalam kapitalisme secara dialektis akan mengarah pada kehancuran. (Ritzer, 2012-42).
Itulah sketsa pemikiran Karl Marx yang sebenarnya lahir dari kondisi sosial pada masanya. Marx begitu terobsesi untuk membuktikan bahwa masyarakat kapitalis adalah penyebab dari ketimpangan sosial  dan alienasi manusia. Marx menganalisis kenyataan dan struktur sosial tidak lebih dari sekedar dinamika di sekitar kegiatan produksi manusia.
Marx menawarkan revolusi sebagai solusi sekaligus negara sosialis sebagai tujuannya. Setelah bertahun-tahun, tujua yang dicita-citakan menurut gambaran ideal Marx tidak pernah tercipta. Dalam titik ini maka sangat beralasan jika para pakar kemudian menyebut cita-cita karl Marx hanya utopia belaka.
Teori Karl Marx memang lebih terfokus kepada aspek ekonomi dan politik. Namun, bukan berarti Marx tidak menyentuh pembahasan mengenai kehidupan sosial sama sekali. Marx menggunakan analisis sosial sebagai pengantar bagi teori besar ekonomi politiknya. Sekalipun posisinya dalam dunia sosiologi masih samar-samar, setidaknya Marx berusaha menggambarkan masyarakat sebagaimana ia yakini dan pikirkan. Hal itu tentu saja memberikan perspektif berbedan dan ikut memperkaya studi sosiologi.
DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi Klasik dan Modern 1. Jakarta: Gramedia, 1986.
Arisandi, Herman, Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi Dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD, 2015.
Ritzer, George, Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
Suseno, Frans, Magnis, Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia, 1999.
Bachtiar, Wardi, Sosiologi Klasik. Bandung: ROSDAKARYA, 2013.

Mengenal Sosok Karl Marx dalam Perspektif Sosiologi



Mengenal Sosok Karl Marx dalam Perspektif Sosiologi
Oleh: Sahrul Anwar

Karl Marx lahir di Trier, Prussia (kini Jerman), pada 5 Mei 1818. Ayahnya berprofesi sebagai pengacara sekaligus seorang rabi Yahudi, beberapa tahun kemudian berpindah agama, masuk agama Kristen Protestan. Kemungkinan besar hal ini dilakukannya agar ia dapat menjadi pegawai negeri, tepatnya notaries. Ibunya baru menyusul delapan tahun kemudian , yang mungkin menunjukkan bahwa ia sebenarnya tidak ingin berpindah agama. Bisa jadi begitu mudahnya ayah Karl Marx berpindah agama menjadi alasan utama mengapa Karl Marx tidak pernah meminati urusan-urusan keagamaan.(Suseno, 1999:46).
Karl Marx bukan sosiolog sebagaimana Max Weber dan Georg Simmel, para pakar mengemukakan bahwa Marx lebih dianggap sebagai ekonom daripada sosiolog. Karyanya lebih fokus menyoroti cara manusia, negara, pasar, dan kapital (modal) saling terkait satu sama lain daripada membahas masyarakat dan kehidupan sosial secara spesifik. Meskipun begitu, gagasan dan pemikiran Karl Marx yang tertuang dalam karya-karyanya tidak sedikit yang bersifat sosiologis. Bahkan kita harus mengakui bahwa Karl Marx adalah pemikir masyhur yang karya-karyanya sangat luas dan multidisipliner.
Pada Tahun 1841, Marx memperoleh gelar doktor dari Universitas Berlin yang ketika itu sangat dipengaruhi oleh pemikiran hegel, corak pemikiran hegel yaitu menempatkan rasionalitas dan kebebasan sebagai nilai tertinggi. Setelah lulus, Karl Marx menjadi penulis di surat kabar berhaluan radikal dan liberal. Hanya dalam kurun waktu sepuluh bulan, ia diangkat menjadi kepala editor. Tulisan-tulisan Marx pada saat itu membahas ide-ide yang akan terus ia kemukakan sepanjang hidupnya, yakni meliputi demokrasi, humanisme, serta kapitalisme.(Arisandi, 2015:44).
Marx menikah pada tahun 1843 dan segera meninggalkan Jerman untuk mencari atmosfer yang lebih liberal di Paris, Perancis. Di sana ia terus menganut gagasan Hegelian, hanya saja dengan cara yang lebih praksis, seperti ekonom dan politik—tidak berkutat pada level filsafat dan intelektual. Di sana, ia juga bertemu dengan orang yang akan menjadi sahabat, donator, serta kolaborator sepanjang hidupnya, yaitu Friedrich Engels. (Bachtiar, 2013-124).
Karena beberapa tulisannya meresahkan pemerintah setempat, Marx diusir oleh pemerintah Perancis. Pada tahun 1845, ia memutuskan pindah ke Brussels, Belgia. Di sana pemikiran radikalnya mulai tumbuh sejalan dengan keaktifannya sebagai anggota gerakan revolusioner internasional. (Johnson, 1986:125).
Pada tahun 1846 Marx dan Engels bertolah menuju Inggris. Tidak lama setelah itu, mereka membentuk panitia urusan surat-menyurat, supaya dapat mempertahankan kontak dengan kaum sosialis Perancis, Jerman, dan Inggris. ia juga bergabung dengan Communist League (Liga Komunis), suatu organisasi revolusioner yang bermarkas di London. Hasilnya adalah Communist Manifesto Manifesto Komunis) yang terbit pada tahun 1848. (Arisandi, 2015:44). Karya monumental tersebut ditandai oleh slogan politik terkenal yang berbunyi, “kaum pekerja di seluruh dunia, bersatulah!”. (Marx, 1965:1).
Karl Marx hidup miskin selama bertahun-tahun dan hampir tidak mampu bertahan hidup engan sedikitnya pendapatan dari hasil tulisannya dan bantuan dari Engels. Pada tahun 1864, Marx terlibat dalam aktivitas politik dan bergabung dengan gerakan pekerja internasional. Namanya semakin terkenal karena keterlibatannya dalam gerakan buruh, sekaligus penulis buku Das Kapital. (Johnson, 1986:127).
Disintegrasi yang dialami gerakan buruh itu terjadi pada tahun 1876 yang diikuti kegagalan sejumlah pergerakan revolusioner ditambah penyakit yang dideritanya menandai akhir karier Marx. Secara berturut-turut, istri Marx meninggal pada tahun 1881 dan anak perempuannya setahun kemudian. Marx sendiri meninggal pada 14 Maret 1883.
Karl Marx tidak pernah menyebut dirinya sebagai seorang sosiolog. Namun, karya-karyanya yang begitu luas juga mencakup sosiologi di dalamnya. Dalam studi sosiologi, Marx memunculkan teori-teori seperti masyarakat kapitalis, konflik, kelas sosial, perubahan sosial dan alienasi.
Salah satu teori Karl Marx yang fundamental adalah masyarakat kapitalis. Marx menawarkan teori tersebut berdasarkan pandangannya mengenai hakikat manusia. Marx setuju bahwa pada dasarnya manusia itu tidak bisa terlepas dari kegiatan produksi. Artinya, untuk bertahan hidup, manusia perlu bekerja dengan cara mengolah suatu hal termasuk alam. Upaya tersebut menghasilkan makanan (pangan), pakaian (sandang), serta tempat tinggal (papan). Menurut Marx tiga kebutuhan dasar manusia tersebut harus terpenuhi sebelum kebutuhan lainnnya.
Produktivitas merupakan cara alamiah untuk mengekspresikan dorongan kreativitas dasar manusia. Selain itu, dorongan dasar tersebut diekspresikan secara bersama-sama dengan orang lain. Hal tersebut menyiratkan bahwa sifat dasar manusia adalah di bidang produksi serta hidup bersosialisasi. Mereka perlu bekerja sama untuk bertahan hidup dan merealisasikan setiap kebutuhan dan keinginannya tersebut. (Ritzer, 2012:41).
Seiring dengan berjalannya waktu, sifat alamiah tersebut terhapus oleh sebuah sistem yang bernama Kapitalisme. Kapitalisme pada dasarnya adalah serangkaian struktur yang menjadi penghalang antara seorang individu dan proses produksi, produk dari proses itu. Pada akhirnya, kapitalisme bahkan memecah belah diri individu-individu lainnya. Hal tersebut merupakan pengertian konsep dasar alienasi (keterasingan). (Ritzer, 2012:41-42).
Marx memaparkan teori materialisme historis setelah ia mendapatkan inspirasi dari konsep materialisme dialektis yang diusung Hegel. Dalam hal ini, Hegel menyatakan bahwa terdapat aspek-aspek berlawanan dari setiap individu. Akhirnya, dua aspek yang berlawanan itu akan menghasilkan hal baru, atau dikenal dengan istilah tesis, antitesis, dan sintesis. (Suseno, 1999:47-48).
Berdasarkan hukum dialektika Hegel, Marx juga meyakini bahwa masyarakat telah berkembang melalui beberapa tahap. Misalnya, masyarakat berpradaban primitif, yakni tidak mengenal kepemilikan. Kemudian, masyarakat berkembang menjadi kapitalis yang mengenal kepemilikan. Pada tahap inilah Marx hidup dan mengkritisi hal tersebut.
Di dalam perubahan dari masyarakat primitif menuju masyarakat kapitalis, terdapat proses dialektis yang disebut sebagai materialisme historis. Marx menggunakan konsep materialisme historis untuk mmenjelaskan keadaan masyarakat dari dulu sampai tiba di zaman Marx. Karena materi oleh Marx diartikan sebagai keadaan ekonomi, maka teorinya juga disebut analisis ekonomi terhadap sejarah (economic interpretation of history). (Arisandi, 2015:46).
Menurut Marx, diatas basis ekonomi, pasti berkembang suatu struktur yang terdiri dari kebudayaan, ilmu pengetahuan, konsep-konsep hukum, kesenian, agama, serta ideologi. Perubahan sosial-politik masyarakat disebabkan oleh pergeseran dalam basis ekonomi, yakni pertentangan atau kontradiksi antara kepentingan-kepentingan dengan tenaga-tenaga produktif. Adapun lokomotif perkembangan masyarakat adalah pertentangan antar kelas sosial. (Budiarjo, 2003:81).
Marx percaya bahwa masyarakat kapitalis adalah biang  kehancuran dari sistem sosial yang ada. Hal ini disebabkan orang miskin tetap akan bertahan dengan kemiskinannya, sementara orang kaya dan kalangan pemilik modal dapat terus menikmati hidup nyaman dan mengonsumsi hasil kerja keras pekerja. Masyarakat kapitalis juga menimbulkan pertentangan kelas, yakni antara kaum pekerja atau proletar dengan pemilik modal atau kaum kapitalis.
Menurut Marx, jika manusia menempuh proses produksi—dalam arti berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bernilai—maka sudah sepantasnya ia dapat menikmati jerih payah yang ditempuhnya. Sayangnya, hal seperti itu tidak mungkin terjadi di dalam sistem kapitalisme. Apa pun yang dilakukan oleh buruh tidak bisa mereka nikmati sendiri. Terdapat penghalang  antara buruh dengan hasil yang diproduksinya. Penghalang itu tentu saja adalah sistem kapitalisme.
Selain sebagai penghalang antara individu dengan pekerjaannya, sistem kapitalisme juga menghalangi interaksi dengan orang lain. Dalam masyarakat kapitalis, harga diri individu ditentukan oleh kelasnya. Jika nerasal dari kelas pekerja maka martabatnya hanya sampai di situ. Jika berasal dari kelas pemilik modal atau borjuis maka secara otomatis derajatnya tinggi. Bagi Marx, hubungan seperti ini selalu menyimpan potensi konflik yang dapat meledak setiap waktu layaknya bom waktu. Dan inilah penjelasan lebih rinci mengenai konsep alienasi yang dikemukakan Marx.
Para buruh kehilangan kebebasan individual karena telah dirampas oleh sistem yang bersifat koersif. Mereka tidak memiliki waktu, tenaga, serta keinginan sendiri karena dipenjara oleh sistem yang diterimanya sebagai sebuah kenyataan. Padahal, menurut Marx sistem ini bisa dicegah.
Para pemilik modal yang sedikit tidak mungkin dapat menguasai kaum buruh yang jumlahnya sangat banyak. Kecuali dalam sistem kapitalisme. Oleh karena itu, Marx mendorong masyarakat agar sistem itu diruntuhkan secepat mungkin. Masyarakat kapitalis yang melahirkan kelas-kelas sosial harus segera diakhiri untuk digantikan dengan sistem yang lebih berpihak kepada kaum proletar. Sistem itu dikenal dengan sistem komunisme. Marx sebagai seorang ilmuwan sekaligus membantu meruntuhkan kapitalisme dengan cara memupuk kesadaran antarkelas. (Arisandi, 2015:49).
Dalam buku Das Kapital, Marx menjelaskan secara rinci betapa rumitnya hubungan antara borjuis dengan proletar. Bahkan, kerumitan hubungan itu juga berimbas pada ketidakadilan dalam pembagian keuntungan. Teori ekonomi Karl Marx tentang nilai lebih (surplus value) menjelaskan bahwa sekeras apa pun buruh bekerja, hal itu tidak akan mampu membuatnya kaya dan sejahtera. Sebaliknya, pemilik modal yang hanya mengeluarkan modal dan sedikit keringat bisa terus menikmati hasil kerja buruh. (Arisandi, 2015:47).
Ketidakadilan tersebut menurut Marx harus diubah. Masyarakat kapitalis yang disekat oleh kelas harus diruntuhkan. Sebagai gantinya perlu dibentuk masyarakat tanpa kelas. Tidak ada kepemilikan pribadi dalam masyarakat ini. Artinya, tidak ada orang miskin dan kaya, pihak yang dikuasai dan menguasai, serta kelompok yang dieksploitasi dan mengeksploitasi. Masyarakat tanpa kelas disebut komunisme-sosialisme. Konsep inilah yang menurut marx menjadi jawaban dari pertentangan kelas dalam masyarakat kapitalis. Komunisme-sosialisme ini sekaligus menjadi sintesis menurut logika dialektis Hegel yang dianut Marx. (Ritzer, 2012:40-41).
Di dalam pembukaan buku The Manifesto of Communist Party, Marx mengatakan, “ada hantu yang tengah bergentayangan di Eropa, yaitu Komunisme.” Hantu inilah yang memang sengaja dihidupkan olehnya. Marx sebenarnya tidak terlalu terobsesi untuk mendirikan negara sosial. Ia justru lebih banyak membantu mewujudkan keruntuhan kapitalisme. Iaa yakin bahwa konflik dan kontradiksi dalam kapitalisme secara dialektis akan mengarah pada kehancuran. (Ritzer, 2012-42).
Itulah sketsa pemikiran Karl Marx yang sebenarnya lahir dari kondisi sosial pada masanya. Marx begitu terobsesi untuk membuktikan bahwa masyarakat kapitalis adalah penyebab dari ketimpangan sosial  dan alienasi manusia. Marx menganalisis kenyataan dan struktur sosial tidak lebih dari sekedar dinamika di sekitar kegiatan produksi manusia.
Marx menawarkan revolusi sebagai solusi sekaligus negara sosialis sebagai tujuannya. Setelah bertahun-tahun, tujua yang dicita-citakan menurut gambaran ideal Marx tidak pernah tercipta. Dalam titik ini maka sangat beralasan jika para pakar kemudian menyebut cita-cita karl Marx hanya utopia belaka.
Teori Karl Marx memang lebih terfokus kepada aspek ekonomi dan politik. Namun, bukan berarti Marx tidak menyentuh pembahasan mengenai kehidupan sosial sama sekali. Marx menggunakan analisis sosial sebagai pengantar bagi teori besar ekonomi politiknya. Sekalipun posisinya dalam dunia sosiologi masih samar-samar, setidaknya Marx berusaha menggambarkan masyarakat sebagaimana ia yakini dan pikirkan. Hal itu tentu saja memberikan perspektif berbedan dan ikut memperkaya studi sosiologi.
DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi Klasik dan Modern 1. Jakarta: Gramedia, 1986.
Arisandi, Herman, Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi Dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD, 2015.
Ritzer, George, Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
Suseno, Frans, Magnis, Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia, 1999.
Bachtiar, Wardi, Sosiologi Klasik. Bandung: ROSDAKARYA, 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar