Menyelami
Rasisme Secara Sosiologis
Oleh:
Sahrul Anwar
“Anda
tidak akan menjadi kapitalisme tanpa rasisme”
-Malcolm
X-
Berbicara tentang Rasisme, mungkin sama halnya dengan
perasaan kaum milenial yang tengah merindukan kekasihnya—tak kunjung selesai. Bahkan
ketika iblis tak mau bersujud kepada adam yang diajarkan dalam kitab suci pun
itu berangkat dari tindakan rasialis iblis yang merasa lebih mulia dan lebih senior daripada adam.
Kita boleh lihat sejarah awal umat islam, muadzin pertama
yang asalnya seorang budak bernama bilal berasal dari ras kulit hitam,
diperlakukan sangat tak manusiawi oleh kaum Quraisy—terlepas dari perbedaan
keyakinan.
Di Indonesia pun kita mengalami masa kelam tentang
rasisme. Terbukti pada era orde baru yang dinahkodai oleh Soeharto dengan
adanya Intruksi Presiden no. 14 Tahun 1976 yakni pelarangan tentang kegiatan
keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat etnis Tionghoa. Dengan adanya
kebijakan ini, masyarakat Tionghoa semakin terisolir dari kehidupan khalayak.
Selain itu, Apartheid
yang dilakukan di Afrika Selatan pada abad 19-20 dan peristiwa Holocaust yang diterapkan oleh Nazi yang
menewaskan jutaan umat manusia serta peristiwa yang terjadi di Selandia Baru
yang terjadi pada 15 Maret 2019 semakin melanggengkan sejarah tentang rasisme.
Untuk mendalami persoalan rasis, mungkin penulis perlu
mengutip perkataan penulis post-kolonial sekaligus kritikus bernama Stuart
Hall, ia menyatakan bahwa dalam rangka memahami rasisme secara sosiologis,
perlu mengetahui tidak hanya sejarahnya, tapi juga implikasi logis dan
kemampuan tindakan rasisme dalam beradaptasi dengan situasi yang baru.
Perkataan Stuart Hall itu selaras dengan ucapan Malcolm X
yang diatas penulis kutip. Bahwa anda tidak akan menjadi kapitalisme tanpa
rasisme. Contoh konkretnya, sekarang di media sosial begitu populer dan banyak orang
yang menawarkan sabun, masker, obat pemutih kulit. Itulah upaya kapitalisme
yang dibumbui benih-benih rasisme. Penulis belum pernah mendengar atau melihat
adanya sabun, obat, masker penghitam kulit?
Maka dari itu, penulis patut mengamini perkataan Stuart
Hall. Dalam kasus ini, rasisme berkolaborasi dengan kapitalisme. Orang yang
terjebak dalam piciknya sistem ini tentunya menganggap bahwa semakin putih
seseorang semakin baik. Itu pulalah penekanan sosiolog Peter L. Berger dengan
Teori Kontruksi Realitas Sosial yang memandang bahwa proses sosial diciptakan
berangkat dari keinginan subjektif dan dikontruksi sesuai kehendaknya.
Adapun peletak dasar konsep ras bernama W.E.B. Du Bois
seorang sosiolog modern yang mempunyai minat besar tentang rasisme. Sebenarnya gagasan
Du Bois tentang ras itu mengacu pada teori kelas Karl Marx. Hanya saja Du Bois mengasosiasikan
dalam relasi antara ras kulit hitam dan kulit putih.
Ia melakukan penelitian di kawasan Philadelphia dan
menemukan fakta bahwa orang kulit hitam di Amerika selalu termarjinalkan. Terlebih
pelayanan publik yang terdiskreditkan.
Solusi yang ditawarkan Du Bois bahwa kita harus semacam
melakukan reformasi terhadap cara pandang bahwa ras bukanlah kelas. Tidak ada
ukuran yang dapat mengungguli satu sama lain. Selain itu, upaya pengentasan
rasisme itu bisa dilewati dalam berbagai hal. Contohnya upaya Nelson Mandela
dalam melawan Apartheid dengan mengintegrasikan
masyarakat lewat olahraga rugbi.
Peristiwa di Selandia Baru boleh kita baca secara
fungsionalisme konflik menurut sosiolog Lewis Alfred Coser. Dengan adanya
kejadian itu, kita bisa melihat rasa persaudaraan dan duka cita yang teramat
dalam dari semua umat manusia. Bahkan di tempat yang sama di Selandia Baru
ketika umat muslim sedang melakukan peribadatan, mereka dijaga oleh orang-orang
non-muslim.
Buku
The Elementary Forms of Religious Life, yakni
hasil penelitian Durkheim di suku pedalaman Australia. Di buku tersebut ia
menyatakan bahwa segala sesuatu yang dapat menjadi alat integritas sosial,
itulah agama. Walaupun ada ritus-ritus dan upacara-upacara yang harus dilakukan.
Durkheim mewariskan pandangan yang visioner dalam
tulisannya walaupun bersifat implisit. Dimana agama harusnya menjadi solusi
atas terjadinya tindakan rasisme yang menyebabkan hancurnya kohesi sosial.
Penulis menganggap bahwa ras adalah suatu kenyataan
sosial dan tidak seharusnya memicu sentimen yang melahirkan tindakan
ketidakadilan. Tepat pada uraian ini, mungkin kita secara berjamaah mengutuk
keras tindakan rasisme. Tapi dengan jujur dan penuh kehati-hatian kita perlu
intropeksi diri. Jangan-jangan upaya rasisme itu ada dan tertanam dalam benak
kita sendiri? Wallahu a’lam bi al-shawaab~
Penulis adalah mahasiswa Sosiologi 2016 Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Penulis adalah mahasiswa Sosiologi 2016 Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

Mantul kanda
BalasHapusMenurut van den bergh seorang sosiolog modern,mengatakan bahwa konsep rasisme dalam sosiologi itu belum terdefinisikan secara jelas, karena rasisme selalu identik dengan apa yang ada dalam manusia itu sendiri, singkatnya seperti itu. Kendati demikian, Rasisme memang sengaja dipertahankan atau diciptakan hanya untuk mempertahan kepentingan sebagaian kelompok. Sebagai contoh: Kaum borjuasi dan kaum proletar, tidak luput dari persoalan rasisme dan tentunya dengan berbagai kepentingannya.
BalasHapusMungkin sedikit yang bisa saya tulis, karena cangkeul.
Menurut van den bergh seorang sosiolog modern,mengatakan bahwa konsep rasisme dalam sosiologi itu belum terdefinisikan secara jelas, karena rasisme selalu identik dengan apa yang ada dalam manusia itu sendiri, singkatnya seperti itu. Kendati demikian, Rasisme memang sengaja dipertahankan atau diciptakan hanya untuk mempertahan kepentingan sebagaian kelompok. Sebagai contoh: Kaum borjuasi dan kaum proletar, tidak luput dari persoalan rasisme dan tentunya dengan berbagai kepentingannya.
BalasHapusMungkin sedikit yang bisa saya tulis, karena cangkeul.