Tulisan
Tanpa Judul
Oleh:
Sahrul Anwar
“.....dan hanya kepada Allah orang-orang beriman
harus bertawakal (Q.S At-Taubah:51)”
Barangkali agak aneh jika aku harus menamai tulisan ini
tanpa judul. Tapi itu bukan suatu masalah daripada aku harus melamun dan
menatap laptop tanpa aku gerakkan jari-jariku dari kefanaan pikiran menuju
keabadian ‘karya’, begitu pikirku.
Memang karya yang tidak seberapa, tapi begitulah manusia,
mungkin pandangan umum bergunanya seseorang tergantung atas karya apa yang
dihasilkan—khususnya untuk diri sendiri dan umumnya bagi khalayak. Alih-alih
untuk berkarya, bagiku menulis bukan soal berguna atau tidaknya seseorang,
apalagi untuk ‘keren-kerenan’. Menulis menjadi semacam aktivitas yang harus
terlembagakan, bukan untuk kalangan akademisi saja, tapi siapapun yang mampu
berpikiran jernih, analisis tajam, mengupas suatu persoalan menjadi rangkaian
kata yang terdeskripsikan, tranformasi informasi dan pengetahuan.
Tulisan tak jelas
ini aku tulis diawal hari tanggal 22 Maret 2020 sekitar pukul 02.13, setelah
sebelumnya tidur kurang lebih 1 jam. Berat rasanya jika mata harus cepat-cepat
menatap dunia. Aku menulis bukan karena peradaban manusia tidak terlepas dari
teks. Aku hanya ingin sedikit berkeluh kesah perihal badai dalam pikiran dan
mengakibatkan galau dihati.
Seperti kebiasaanku kala menulis, harus ditemani kopi dan
dengan beberapa batang rokok. Aku termenung, kebiasaanku ini mungkin sangat
sinergis dengan keresahan yang ingin aku curahkan dalam tulisan ini—yakni KEBEBASAN.
Kebiasaanku ketika menulis harus dibarengi kopi dan rokok
itu menjadi seolah-olah hal yang tidak bisa dilewatkan. Disisi lain dibelahan
bumi manapun manusia hidup, dengan latar belakang pendidikan apapun, beragama
apapun, berideologi apapun, selain keadilan—pasti juga memuja kebebasan, begitu
pula aku.
Ketika menulis, aku merasa bebas mengejawantahkan segala
macam gagasan, wacana, ide, baik yang konkret atau abstrak sekalipun. Karena kebiasaanku—menulis
harus ditemani oleh kopi dan rokok, aku masih saja tetap terbelenggu, bisa
jadi, orang-orang yang memposisikan kebebasan menjadi sesuatu yang layak
diperjuangkan, ia pun masih terbelenggu dengan kebebasan itu sendiri.
Tak bisa menafikan dan menampik keadaan, aku pun
kewalahan dengan pemikiranku sendiri. Tulisan tak berjudul ini mungkin pula
wujud konkret daripada kebebasan. Memilih bebas atau tidak bebas—terbelenggu itu
pun suatu kebebasan bukan?
Term kebebasan sudah sedemikian menyeleweng dan menjadi
kabur maknanya, dalam situasi distorsi
semacam ini, bukan tak mungkin kebebasan seseorang ditambah dan direduksi.
Nurcholish Madjid telah memberitahu kita bahwa kebebasan
seseorang itu mutlak. Dalam relasi sosiologis, kebebasan seseorang dibatasi
oleh kebebasan orang lain. John Locke pun mengatakan bahwa adanya kontrak
sosial pun tidak lain dan tidak bukan untuk menjamin kebebasan seseorang. Bahkan,
Jean Paul Sartre bilang bahwa manusia dikutuk untuk bebas.
Aku sangat sepakat dengan Sartre bahwa manusia dikutuk
untuk bebas, tapi karena sosio-kultur membuat situasi dan keadaan semakin rumit
dan kompleks. Hingga adanya perbudakan, penindasan—yang menegasikan kebebasan.
Jika kita buka kembali al-Quran—pedoman hidup umat
manusia ‘katanya’, disana dijelaskan bahwa ada jalan yang sukar ditempuh dan
berliku—selain memberi makan bagi kelaparan, menyantuni anak yatim dan fakir
miskin, tetapi juga melepaskan perbudakan menuju kebebasan (Baca: Al-Balad:
12-16).
Tuhan menginginkan makhluknya bebas, manusia menjadikan
dirinya terbelenggu. Banyak sekali ayat-ayat, ajaran, dan nilai agama Islam
yang mengajarkan makhluknya untuk bebas—dengan menegasikan perbudakan.
Jika pun dalam kehidupan—atau di negara kita lalu dihadapkan
pada kondisi ketidakadilan, kebatilan, sistem yang korup, dan maraknya
penindasan. Jika memang kita orang beriman, kita harus melawan. Sungguh Allah
hidup bersama orang-orang yang tertindas—demi memperjuangkan kebebasan.
Maha
suci Allah dengan segala rahmatnya, sang khalik—maha tahu dengan apa yang baik
untuk makhluknya. Boleh jadi kamu senang akan sesuatu tapi itu buruk bagimu, boleh jadi kamu tidak menyukai
sesuatu tapi itu amat baik bagimu (Baca: Al-Baqarah: 216). Sudah tidak ada lagi
alasan untuk tidak beriman, dan betul-betul menginsyafi bahwa Dzat-Nya lah maha
mengetahui dan sebaik-baiknya tempat kembali. Wallahu’alam bi shawab~
Tulisan Tanpa Judul
COVID-19
Dan Segala Persepsi Tentangnya
Oleh:
Sahrul Anwar[1]
Email:
sahrulanwar031@gmail.com
Sumber foto:
Kompas.com
”dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui didalamnya...(Q.S
17:36)”
Tulisan ini mungkin tidak sesempurna orang-orang yang
berkhotbah tentang implikasi Corona Virus
Disease (COVID-19) terhadap ekonomi, sosial, politik. Agaknya, tidak
berlebihan pula jika penulis mengatakan bahwa tidak ada kata yang terucap
akhir-akhir ini disetiap harinya selain daripada kata ‘corona’.
Alasan penulis angkat bicara pada persoalan ini pun bukan
untuk ‘sok tahu’ menyoal tentang corona,
bukan pula membahas secara historis, sebab akibat, dan gejala terkena corona, penulis hanya melihat realitas baik
di dunia nyata atau bahkan di dunia maya—dari berbagai kalangan yang setiap
orang seakan-akan ‘wajib’ untuk berbicara tentang virus corona ini.
Berangkat dari gema informasi itulah, penulis hendak menggerakkan setiap jari
jemarinya terlepas dari kekurangannya dari setiap paragraf yang dituliskan.
Di dunia nyata, rasa waspada dan kehati-hatian dipelihara
hingga pada titik ekstrem. Sampai-sampai seseorang yang pilek, demam, gatal
tenggorokan, mencurigai dirinya sendiri terkena corona. Begitu orang lain mendengar hal tersebut, ia pun semakin
waspada untuk memberi jarak agar tidak dekat dengannya.
Begitupun
orang yang merasa dirinya ‘agamawan’ menganggap bencana ini merupakan kehendak
Tuhan, hukuman Tuhan terhadap umat manusia—seperti halnya tokoh Paneloux dalam
karya Albert Camus berjudul Sampar. Orang-orang yang rela membeli hand sanitizer dan masker yang harganya 3 kali lipat dari harga biasanya dengan alasan
upaya preventif penyebaran virus corona.
Ada pula golongan masyarakat yang mengacuhkan persoalan virus corona ini dengan masih tetap beraktivitas diluar rumah, ia
beranggapan bahwa kematian adalah takdir Tuhan.
Dalam kondisi bernegara, 15 Maret 2020 pemerintah pun menerapkan
kebijakan social distancing—menjaga
jarak dari kerumunan, dan melakukan aktivitas di rumah, dalam kurun waktu 2
minggu. Anehnya, banyak dari kita yang mengglorifikasikan bahwa RI ‘Lockdown’. Lockdown artinya mengisolasi suatu wilayah, memberhentikan setiap
aktivitas, dan mencukupi kebutuhan setiap masyarakat kurang lebih selama waktu
yang ditentukan. Presiden Jokowi pun menuturkan bahwa “Tidak ada kita berpikir
pada kebijakan lockdown”. Seperti
yang diberitakan di CNBC Rabu, (18/3/20).
Begitulah kita, selalu menggunakan kata yang kita sendiri
tidak tahu artinya, karena banyak yang mengucapkan kata tersebut, seolah
kebenaran ditentukan oleh banyaknya orang yang berpendapat tentang hal itu.
Kebodohan yang dipertontonkan itu merupakan implikasi informasi yang dilahap
tanpa dicerna dan tak dipertimbangkan kebenaran maknanya.
Penulis pun mengklaim bahwa ketakutan karena virus corona lebih cepat hinggap
dikepala setiap orang dibandingkan pengetahuan seseorang tentang virus corona. Dalam situasi pra-kognisi
itulah ketakutan dan kecemasan itu lahir. Meskipun begitu, tabiat manusia ialah
survive—dari mulai saat zaman berburu
dan meramu pun manusia selalu mencari solusi dari setiap permasalahan. Walaupun solusi itu yang nantinya akan menjadi
suatu persoalan kembali tapi kita tak bisa pungkiri kita hidup dalam dunia yang
dinamis dan penuh dialektika dalam setiap perjalanannya.
Banyaknya persepsi yang tampak baik di dunia maya atau
dunia nyata merupakan bentuk daripada reaksi atas permasalahan yang terjadi dan
dikonstruksi oleh faktor internal
seperti pemahaman diri sendiri, dan faktor eksternal seperti masyarakat,
lingkungan sekitar, dan media.
Tiba diakhir tulisan, penulis sadar bahwa keberagaman pendapat merupakan bagian daripada kehidupan, begitupun bencana. Rasanya tidak berlebihan jika kita berharap agar kita selalu berada dalam
kesehatan dan yakin bahwa Tuhan yang maha esa-lah sebaik-baiknya penolong. Wallahu a’lam bishawab~
COVID-19 Dan Segala Persepsi Tentangnya
Langganan:
Komentar (Atom)

