COVID-19
Dan Segala Persepsi Tentangnya
Oleh:
Sahrul Anwar[1]
Email:
sahrulanwar031@gmail.com
Sumber foto:
Kompas.com
”dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui didalamnya...(Q.S
17:36)”
Tulisan ini mungkin tidak sesempurna orang-orang yang
berkhotbah tentang implikasi Corona Virus
Disease (COVID-19) terhadap ekonomi, sosial, politik. Agaknya, tidak
berlebihan pula jika penulis mengatakan bahwa tidak ada kata yang terucap
akhir-akhir ini disetiap harinya selain daripada kata ‘corona’.
Alasan penulis angkat bicara pada persoalan ini pun bukan
untuk ‘sok tahu’ menyoal tentang corona,
bukan pula membahas secara historis, sebab akibat, dan gejala terkena corona, penulis hanya melihat realitas baik
di dunia nyata atau bahkan di dunia maya—dari berbagai kalangan yang setiap
orang seakan-akan ‘wajib’ untuk berbicara tentang virus corona ini.
Berangkat dari gema informasi itulah, penulis hendak menggerakkan setiap jari
jemarinya terlepas dari kekurangannya dari setiap paragraf yang dituliskan.
Di dunia nyata, rasa waspada dan kehati-hatian dipelihara
hingga pada titik ekstrem. Sampai-sampai seseorang yang pilek, demam, gatal
tenggorokan, mencurigai dirinya sendiri terkena corona. Begitu orang lain mendengar hal tersebut, ia pun semakin
waspada untuk memberi jarak agar tidak dekat dengannya.
Begitupun
orang yang merasa dirinya ‘agamawan’ menganggap bencana ini merupakan kehendak
Tuhan, hukuman Tuhan terhadap umat manusia—seperti halnya tokoh Paneloux dalam
karya Albert Camus berjudul Sampar. Orang-orang yang rela membeli hand sanitizer dan masker yang harganya 3 kali lipat dari harga biasanya dengan alasan
upaya preventif penyebaran virus corona.
Ada pula golongan masyarakat yang mengacuhkan persoalan virus corona ini dengan masih tetap beraktivitas diluar rumah, ia
beranggapan bahwa kematian adalah takdir Tuhan.
Dalam kondisi bernegara, 15 Maret 2020 pemerintah pun menerapkan
kebijakan social distancing—menjaga
jarak dari kerumunan, dan melakukan aktivitas di rumah, dalam kurun waktu 2
minggu. Anehnya, banyak dari kita yang mengglorifikasikan bahwa RI ‘Lockdown’. Lockdown artinya mengisolasi suatu wilayah, memberhentikan setiap
aktivitas, dan mencukupi kebutuhan setiap masyarakat kurang lebih selama waktu
yang ditentukan. Presiden Jokowi pun menuturkan bahwa “Tidak ada kita berpikir
pada kebijakan lockdown”. Seperti
yang diberitakan di CNBC Rabu, (18/3/20).
Begitulah kita, selalu menggunakan kata yang kita sendiri
tidak tahu artinya, karena banyak yang mengucapkan kata tersebut, seolah
kebenaran ditentukan oleh banyaknya orang yang berpendapat tentang hal itu.
Kebodohan yang dipertontonkan itu merupakan implikasi informasi yang dilahap
tanpa dicerna dan tak dipertimbangkan kebenaran maknanya.
Penulis pun mengklaim bahwa ketakutan karena virus corona lebih cepat hinggap
dikepala setiap orang dibandingkan pengetahuan seseorang tentang virus corona. Dalam situasi pra-kognisi
itulah ketakutan dan kecemasan itu lahir. Meskipun begitu, tabiat manusia ialah
survive—dari mulai saat zaman berburu
dan meramu pun manusia selalu mencari solusi dari setiap permasalahan. Walaupun solusi itu yang nantinya akan menjadi
suatu persoalan kembali tapi kita tak bisa pungkiri kita hidup dalam dunia yang
dinamis dan penuh dialektika dalam setiap perjalanannya.
Banyaknya persepsi yang tampak baik di dunia maya atau
dunia nyata merupakan bentuk daripada reaksi atas permasalahan yang terjadi dan
dikonstruksi oleh faktor internal
seperti pemahaman diri sendiri, dan faktor eksternal seperti masyarakat,
lingkungan sekitar, dan media.
Tiba diakhir tulisan, penulis sadar bahwa keberagaman pendapat merupakan bagian daripada kehidupan, begitupun bencana. Rasanya tidak berlebihan jika kita berharap agar kita selalu berada dalam
kesehatan dan yakin bahwa Tuhan yang maha esa-lah sebaik-baiknya penolong. Wallahu a’lam bishawab~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar