Barangkali kerinduan merupakan permunculan dari alam bawah sadar dimana aku berpikir dan merasakan disaat ini sebagaimana pikiran dan perasaannya dimasa lampau, mungkin inilah yang kemudian melahirkan apa yang kita sebut sebagai kegelisahan.
Perasaan akan keberadaan seseorang dalam diri dan kesadaran akan tiadanya seseorang tersebut secara riil menempatkan seseorang pada dua dunia yang tidak sepenuhnya subjektif dan tidak sepenuhnya pula objektif. Pikiran dan perasaan yang dibangun berdasarkan subjektivitas kerinduan.
Kerinduan memang tidak selalu berkorelasi dengan pengalaman yang menyenangkan, tetapi bagaimanapun kerinduan selalu mempercantik pengalaman. Kita merasakan kebahagiaan, rasa harap cemas, dan merasa beruntung dengan sesuatu yang ada, hidup dan tumbuh dalam sejarah bersama seseorang yang kita rindukan.
Kerinduan juga mengantarkanku pada keyakinan terhadap perasaannya. Sebuah keyakinan yang mendalam--yang melebihi hari kemarin, dan ingin sekali lagi dituturkannya saat ini agar ia menemukan kelegaan makna batiniah. Ingin rasanya mengungkapkan seterang-terangnya bahwa aku mengasihinya, mencintanya, mengkhawatirkan keselamatannya dan banyak hal lainnya rahasia hati yang aku sendiri merasa bahwa kata-kata tak akan mampu mengungkap segala perasaan yang kompleks tersebut. Hingga keterpautan hati itu menghendaki dan menginginkan pertemuan dengan seseorang yang dikasihi.
Maka, biarkanlah aku menggembalakan rindu dalam kesunyian, juga menghayatimu dalam ketidakhadiran sampai pada waktu dimana kita diberikan kesempatan kembali untuk bertemu. Adapun pertemuan ialah setetes air dari kehausan dalam seribu langkah perjalanan.~
Sukabumi, 23/10/22
Sahrul Anwar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar