AUGUSTE
COMTE; PELETAK DASAR SOSIOLOGI
Oleh:
Sahrul Anwar[1]
Sumber foto: www.biography.com
Sebenarnya, perkembangan sosiologi
dimulai sejak abad ke-14--Ibnu Khaldun menerbitkan karya berjudul Muqaddimah. Walaupun pada saat ini Ibnu
Khaldun tidak menamakan kajian yang dibahasnya sosiologi. Akan tetapi ia
menamakan pokok bahasannya itu ialah Ulum
al-Umran Al-Ijtima’ al-Basyari (Ilmu yang mempelajari kondisi-kondisi
masyarakat).[2]
Namun, perkembangan dari studi sosiologi di Eropa 5 abad setelahnya yaitu pada
abad ke-19 ada salah seorang yang mempopulerkan pemikirannya yang nantinya
menstimulus pemikir-pemikir lain untuk memperkaya bahasan sosiologi—dia adalah
Auguste Comte yang kelak dijuluki sebagai bapak sosiologi dan bapak filsafat
positivisme.
A. Biografi
Singkat
Auguste Comte Lahir di Montpellier,
sebuah kota kecil di barat daya Prancis, pada 19 Februari 1798. Ia belajar di
Ecole Polytechnique di Paris, tapi pada tahun 1816 sekolah itu ditutup untuk
reorganisasi karena Ecole Polytechnique itu terkenal dengan idealisme
republikanismenya. Akibatnya Auguste Comte belum sempat mendapatkan gelar
sarjana dan memutuskan beralih melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran
di Montpellier.[3]
Helbron (1995) menggambarkan Comte sebagai sosok bertubuh pendek, bermata
juling, serta merasa sangat gelisah terhadap situasi sosial di sekitarnya,
khususnya ketika menyangkut perempuan. Tidak hanya itu, ia juga terasing dari
masyarakatnya secara keseluruhan.
Salah satu perkembangan paling pesat dalam hidup Comte
terjadi pada tahun 1826, saat itu, Comte mengolah satu skema yang akan digunakannya
untuk menyampaikan serangkaian 72 kuliah umum yang diselenggarakan di apartemen
tempat tinggalnya tentang filsafat. Kuliah umum tersebut mampu menarik peserta
dalam jumlah yang luar biasa. Namun, pada pertemuan ketiga kuliah terpaksa
dihentikan karena Comte mengalami gangguan jiwa. Ia terus mengalami masalah
mental, bahkan pernah dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung
upaya nekat itu gagal.[4]
Auguste Comte menikah dengan seorang wanita bernama
Caroline Massin. Comte dikenal dengan memiliki kepribadian yang arogan, kejam,
serta mudah marah. Pada tahun 1826, ia dibawa ke sebuah rumah sakit jiwa untuk
mengatasi masalah tersebut. Namun, ia melarikan diri sebelum dinyatakan sembuh.
Ia bercerai dengan Caroline Massin pada tahun 1842 karena alasan yang kurang
jelas.[5]
Dalam kurun waktu 1830-1842 ia
mengerjakan enam jilid karya yang melambungkan namanya yakni Le Cours de Philosophie Positive. Untuk
kali pertamanya ia mendapatkan penghasilan dalam jumlah yang layak. Di dalam
karya tersebut, Comte menguraikan pandangannya bahwa sosiologi adalah ilmu
tertinggi.[6]
Pada tahun1851, ia mampu menyelesaikan empat jilid buku Systeme de Politique Positive yang lebih bertujuan praktis, yakni
menawarkan rencana reorganisasi masyarakat.[7]
Pada tahun 1844 Comte menjalin kisah
dengan pelacur yang bernama Clothilde de Vaux dalam hubungan yang sama rumitnya
dengan kisah cintanya dengan Massin. Hubungan asmara ini tidak bertahan lama
dikarenakan Clothilde de Vaux meninggal dunia disebabkan terkena penyakit
Tubercolosis (TBC). Peristiwa inilah yang menjadi tonggak—Auguste Comte
mendirikan Agama Humanis dan akhirnya ia meninggal pada 5 September 1857 dan
dimakamkan di Cimetiere du Pere Lachaise.[8]
B. Paradigma
Fisika Sosial
Auguste Comte adalah orang yang
pertama yang memperkenalkan istilah sosiologi. Namun, arti penting Comte bagi
perkembangan teori sosiologi awal tidak hanya berhenti disitu. Comte juga
mempelopori penggunaan paradigma positivism dalam mengkaji masyarakat. Ia
percaya bahwa sosiologi harus didasarkan pada metode rasional, dapat diukur,
hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah—layaknya ilmu alam.
Sebelumnya Comte sempat berpikir
untuk memberi nama ilmu pengetahuan tentang kemasyarakatan itu dengan sebutan
“Fisika Sosial”. Akan tetapi beberapa bulan sebelum mempublikasikan nama itu
melalui bukunya, seorang ilmuwan asal Belgia bernama Adolphe Quertelet telah
menggunakan nama tersebut untuk menyebut ilmu yang kini populer dengan nama
demografi. Oleh karena itu, ia mengurungkan niatnya untuk memberi nama “Fisika
Sosial” itu.[9]
Paradigma fisika sosial ini amat berpengaruh terhadap sosiolog sesudahnya.
Terutama Herbert Spencer dan Emile Durkheim—sekalipun mereka mengoreksi dan
menyempurnakan paradigma Comte.
Untuk melihat pemikiran penting Comte dalam studi sosial, patut dilihat
konteks pemikiran Comte yang menjadi latar dari situasi intelektual abad ke-19
di Prancis. Comte hidup ditengah-tengah iklim intelektual di mana sisa-sisa
zaman pencerahan masih bertahan di Prancis. Ada hal yang sangat dikritisi oleh
Comte yaitu revolusi dan agama. Agama sudah mulai dilupakan oleh kalangan
intelektual dan ilmuwan pada saat itu. Banyak intelektual bermunculan dan
menyatakan ateisme secara terbuka ditengah-tengah masyarakat. Rakyat biasa di
Eropa pada abad ke-19 tergolong masih taat beragama, kaum intelektual dan
ilmuwan terang-terangan mendukung ateisme.
Lebih dari itu, banyak ilmuwan yang
terang-terangan menganut paham mekanisme, yakni pandangan bahwa segala sesuatu
di dunia ini, mulai dari alam hingga manusia dapat secara gamblang dijelaskan
menggunakan hukum mekanika. Jadi, tidak tersedia ruang sedikit pun bagi peran
Tuhan dikalangan para intelektual Prancis pada saat itu.
Berangkat dari iklim intelektual
semacam itu, maka lahirlah pemikiran Comte yang dikenal dengan sebutan
Positivisme atau filsafat positif. Positivisme Comte diterapkan pada bidang
yang selama ini terkenal steril dari penjelasan ilmiah, yakni kehidupan sosial.
Comte percaya bahwa masyarakat adalah objek yang tidak jauh berbeda dengan
alam. Dari sinilah Comte mulai merumuskan sebuah teori baru dalam studinya
tentang masyarakat yang semula disebutnya sebagai fisika sosial tetapi kemudian
direvisi menjadi sosiologi.
Penggunaan istilah fisika sosial
menunjukkan bahwa Comte berusaha membangun sosiologi dengan mengikuti aturan
ilmu-ilmu alam. Ilmu pengetahuan baru ini menurut pandangannya akan menjadi
ilmu dominan dengan menelaah struktur sosial dan dinamika sosial. Sikap kritis
Comte terhadap agama dan revolusi ini termanifestasikan dalam pemikirannya
tentang hukum tiga tahap yang terkenal, yakni meliputi teologis, metafisik,
serta positivistik. Melalui konsep hukum tiga tahap, secara otomatis Comte
adalah orang yang paling getol menentang anggapan bahwa revolusi akan
menyelesaikan persoalan dalam masyarakat. Ia justru meyakini bahwa evolusi
alamiahlah yang akan memperbaiki keadaan.
C. Hukum
Tiga Tahap
Comte yang tidak percaya terhadap
teori revolusi, mulai membangun konsep sendiri—yakni hukum tiga tahap, teori
ini menyatakan bahwa ada tiga tahap intelektual yang terjadi di dunia ini dalam
sejarahnya, menurut Comte bukan hanya alam yang menjalani proses evolusi, akan
tetapi manusia, masyarakat, individu, bahkan pikiran.[10]
1. Tahap
Teologis
Pada zaman ini, manusia percaya bahwa
dibalik fenomena alam terdapat kekuasaan-kekuasaan yang adikodrati yang
mengukur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Tahap ini berlangsung hingga
tahun 1300. Sistem pemikiran pada tahap ini menitikberatkan keperayaan pada
kekuatan yang bersifat supranatural serta figur-figur religius yang berwujud
manusia dan lembaga ketuhanan menjadi pusat dari segalanya. Secara khusus,
dunia sosial dan fisik dipandang sebagai hasil ciptaan Tuhan.
2. Tahap
Metafisik
Tahap ini berangsung pada tahun 1300-1800. Pada zaman
metafisika, ide kekuasaan adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip abstrak misalnya “kodrat” dan “penyebab”. Artinya, ide-ide
abstrak seperti konsep tentang alam—bukan Tuhan yang dipersonalisasikan—diyakini
dapat menjelaskan segalanya.
3. Tahap
Positif
Tahap positif ini berlangsung pada abad 1800. Pada
tahap ini dicirikan dengan ilmu pengetahuan dan orang-orang justru berusaha
menemukan hukum-hukum dan kesamaan uraian yang terdapat pada fakta-fakta yang
telah dikenal atau disajikan kepadanya. Caranya, yaitu dengan melakukan pengamatan
serta mengunakan akal, dengan menegaskan bahwa kekacauan sosial itu diakibatkan
oleh kekacauan intelektual
D. Agama
Humanis
Seperti yang tadi dijelaskan dalam
biografi, bahwa Comte berhubungan dengan Clothilde de Vaux, sebenarnya,
Clothilde de Vaux hanya menganggap Comte sebatas teman. Karena perasaan asmara
Comte yang meluap-luap terhadap
Clothilde de Vaux—hingga Vaux meninggal, Comte menganggap bahwa Clothilde de
Vaux itu sebagai wanita ideal dan dalam kehidupannya sendiri, nampaknya
Clothilde de Vaux menggantikan peran Bunda Maria. Dalam istilah Freud, reaksi
emosional Comte sendiri terhadap hubungan fisik yang tak terpenuhi dengan
Clothilde de Vaux merupakan sublimasi terhadap suatu tatanan yang lebih tinggi.
Hubungan mereka merupakan hubungan murni tanpa hubungan fisik—yang menyebabkan
Comte frustasi.
Disebabkan Comte frustasi, kegiatan
rohaniahnya diubah menjadi penyembahan terhadap roh wanita yang dia ketemukan
sedemikian indah dan sempurna terjelma dalam tubuh Clothilde de Vaux. Pandangan
tentang masyarakat positivis Comte diubah menjadi subjektivitas dan pengalaman
yang ia alami, setelah kejadian tersebut, ia menganggap bahwa kekacauan sosial
diakibatkan oleh kekacauan intelektual yang bermuara pada perasaan—sebagaimana
dalam buku System of Positive Politics.[11]
Comte semakin tidak terkendali dan
semakin otoriter, ia berpikir bahwa orang lain tidak dapat membayangkan suatu
masyarakat yang positivis tanpa ada dirinya. Ia beranggapan bahwa dirinya
sebagai “Pendiri agama universal, imam agung humanitas”. Dia menulis buku Positivist Catechism untuk
wanita dan pekerja, buku Appeal to Conservatives untuk pemimpin
politik. Comte mengharapkan bahwa ahli sosiologi lainnya akan mengikuti agama
humanitas yang baru didirikannya itu dan ia berharap bahwa pemikir-pemikir lain
mengikuti bimbingannya dengan memberikan pengarahan yang dapat mengintegrasikan
perasaan humanitasnya.[12]
Gagasan Comte mengenai satu
masyarakat positivis di bawah bimbingan moral agama humanitas semakin lama
semakin terperinci. Misalnya ia menyusun satu kalender baru dengan hari-hari
tertentu untuk menghormati ilmuwan-ilmuwan besar dan lain-lain, yang sudah
bekerja demi kemanusiaan dan kemajuan manusia. Ada beberapa ritus dan doa
yang disusunnya untuk menyalurkan hasrat-hasrat individu dan memasukannya ke
dalam The great being of humanity. Ada
juga kultus terhadap kemanusiaan dengan dirayakannya perasaan-perasaan
altruistic wanita. Comte sendiri sebagai imam agungnya berlutut di depan
altarnya sendiri sambil memegang seikat rambut kepala Clothilde de Vaux.[13]
Bahan Bacaan:
Arisandi, Herman.
2015. Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh
Sosiologi dari Klasik sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD.
Enan, Abdullah.
Muhammad. 2013. BIOGRAFI IBNU KHALDUN.
Jakarta: Zaman.
Johnson, Doyle
Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan
Modern. Jakarta: Gramedia.
Ritzer, George.
2012 Teori Sosiologi dari Sosiologi
Klasik sampai Perkembangan terakhir Postmodern. Yogyakarta: PUSTAKA
PELAJAR.
Ritzer, George dan
Douglas J. Goodman. 2008. Teori Sosiolog;
dari Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern.
Yogyakarta: Kreasi Wacana.
[1] Mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung
Djati Bandung
[2] Muhammad Abdullah Enan,
BIOGRAFI IBNU KHALDUN. Jakarta: Zaman. 2013. Hal 130.
[3] Herman Arisandi. Buku Pintar
Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi dari Klasik sampai Modern. Yogyakarta:
IRCiSoD. 2015. Hal 26.
[4] George Ritzer, Teori
Sosiologi dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan terakhir Postmodern.
Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR. 2012. Hal 27-28.
[5] Herman Arisandi, op cit. hal
27.
[6] George RItzer, op cit.
Hal 28.
[7] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiolog; dari Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial
Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana. 2008. Hal 14.
[8] Herman Arisandi, op cit. hal
28.
[9] Ibid.
[10] Ibid. hal 32.
[11] Doyle Paul Johnson, Teori
Sosiologi Klasik dan Modern, Jakarta: Gramedia 1986. Hal 78.
[12] Ibid. 79.
[13] Ibid. 93
waw amazing
BalasHapusterima kasih, sasudara.
BalasHapus