Bibliomania dan Ambisi Kita
Oleh: Sahrul Anwar[1]

Hasil gambar untuk gambar tumpukan buku yang bagus
Sumber: cnnindonesia.com 
            Selepas zaman pra-aksara, peradaban kita tak terlepas dari budaya tulis menulis. Menulis bukan untuk keren-kerenan, namun memanifestasikan gagasan dan memformulasikan ide untuk konsumsi pribadi atau ditampilkan di muka publik.
            Tak bisa terelakkan, banyak sekali orang yang tergugah hatinya untuk memulai menulis atau menghibahkan hidup hanya untuk menulis. Dari mulai novelis asal Brazil yang novel-novelnya tendensi spiritualis dan mendapat penghargaan International Best Seller—Paulo Coelho, sampai novel yang bucinnya tak tertolong semisal Fiersa Besari atau Boy Chandra.
            Tentunya aku turut bangga terhadap mereka—atau siapapun yang telah menulis, karenanya kita lebih sadar terhadap segala persoalan yang kita hadapi, baik persoalan yang konkret atau abstrak sekalipun.
Akan tetapi, aku lebih bangga terhadap mereka yang menghargai dan mengapresiasi hasil tulisan orang lain dengan cara membacanya. Membaca berarti mentrasmisikan makna dari apa yang terlihat oleh indera menjadi semacam konsepsi dalam isi kepala. Syukur-syukur pengetahuan itu dibagikan kepada orang lain, atau paling tidak menjadi perenungan untuk diri sendiri.
             Sebelum aku teruskan, kawanku berujar seperti ini, “Yaampun kuliah udah mau selesai, sebentar lagi wisuda. Buku udah hampir satu lemari tapi tak ada satu  buku pun yang selesai dibaca. Itupun dibeli atas dasar perintah dosen atau keinginan membeli di toko buku karena judulnya menarik. Paling tidak, aku baca buku kalau ada tugas!”. Lucu ya?
            Disisi lain, aku sangat yakin ada pula sebagian mahasiswa yang konsisten untuk membaca atau menulis. Tapi fakta akan adanya mahasiswa yang jemawa dan angkuh yang tak terkira dengan tidak membaca buku yang sudah ia beli pun, jelas tak kalah banyak.
            Bahkan banyak sekali, lelaki sibuk dengan game online, perempuan sibuk dengan penampilan dan hunting makanan favorit untuk kebutuhan konten di sosial media, secara berjamaah, mereka menjadikan buku sebagai penjaga kamarnya yang paling setia dan di baca hanya jika perlunya. Hal ini cukup membuat kita untuk mengelus dada kan?
            Dalam situasi seperti ini, jangan-jangan idiom—agent of change, agent of social control, iron stock, hanya isapan jempol belaka. baik pengetahuan, atau tindakan itu harus senantiasa diperbarui. Jangan sampai terpenjara dalam arus modernisasi yang minim substansi.
            Kita harus sadar bahwa jutaan orang diluaran sana berharap mendapatkan pendidikan yang layak. Kita sebagai kaum terdidik, malah didikte oleh keinginan dan nafsu pribadi untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan tanpa melihat kewajiban kita sebagai mahasiswa—pendidikan, bentuk konkretnya yakni membaca. Jika hanya ingin menjadi kolektor buku—Bibliomania, tak perlu repot repot menghabiskan waktu untuk kuliah!
            Sudah sepatutnya kita sadar, bahwa ambisi untuk membeli buku seharusnya dibarengi dengan ambisi untuk membacanya, ambisi untuk memahami dan memaknainya. Bukankah membaca merupakan salahsatu perintah Tuhan? 
            Terakhir, menyadur petuah Joseph Brodsky—sastrawan berkebangsaan Rusia—pemenang penghargaan nobel sastra 1987. Ia berkata bahwa, “ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku, salah satunya ialah dengan tidak membacanya”. Tak perlu berkecil hati.
            Tunggu apa lagi? Maksimalkan potensi yang ada demi kelangsungan hidup kita. Buktikanlah bahwa kita bukan makhluk purba, bukan pula makhluk primitif yang tak bisa membaca. Wallahu a’lam bi shawab~


[1]Mahasiswa Sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, aktif di Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kabupaten Bandung

Bibliomania dan Ambisi Kita


Bibliomania dan Ambisi Kita
Oleh: Sahrul Anwar[1]

Hasil gambar untuk gambar tumpukan buku yang bagus
Sumber: cnnindonesia.com 
            Selepas zaman pra-aksara, peradaban kita tak terlepas dari budaya tulis menulis. Menulis bukan untuk keren-kerenan, namun memanifestasikan gagasan dan memformulasikan ide untuk konsumsi pribadi atau ditampilkan di muka publik.
            Tak bisa terelakkan, banyak sekali orang yang tergugah hatinya untuk memulai menulis atau menghibahkan hidup hanya untuk menulis. Dari mulai novelis asal Brazil yang novel-novelnya tendensi spiritualis dan mendapat penghargaan International Best Seller—Paulo Coelho, sampai novel yang bucinnya tak tertolong semisal Fiersa Besari atau Boy Chandra.
            Tentunya aku turut bangga terhadap mereka—atau siapapun yang telah menulis, karenanya kita lebih sadar terhadap segala persoalan yang kita hadapi, baik persoalan yang konkret atau abstrak sekalipun.
Akan tetapi, aku lebih bangga terhadap mereka yang menghargai dan mengapresiasi hasil tulisan orang lain dengan cara membacanya. Membaca berarti mentrasmisikan makna dari apa yang terlihat oleh indera menjadi semacam konsepsi dalam isi kepala. Syukur-syukur pengetahuan itu dibagikan kepada orang lain, atau paling tidak menjadi perenungan untuk diri sendiri.
             Sebelum aku teruskan, kawanku berujar seperti ini, “Yaampun kuliah udah mau selesai, sebentar lagi wisuda. Buku udah hampir satu lemari tapi tak ada satu  buku pun yang selesai dibaca. Itupun dibeli atas dasar perintah dosen atau keinginan membeli di toko buku karena judulnya menarik. Paling tidak, aku baca buku kalau ada tugas!”. Lucu ya?
            Disisi lain, aku sangat yakin ada pula sebagian mahasiswa yang konsisten untuk membaca atau menulis. Tapi fakta akan adanya mahasiswa yang jemawa dan angkuh yang tak terkira dengan tidak membaca buku yang sudah ia beli pun, jelas tak kalah banyak.
            Bahkan banyak sekali, lelaki sibuk dengan game online, perempuan sibuk dengan penampilan dan hunting makanan favorit untuk kebutuhan konten di sosial media, secara berjamaah, mereka menjadikan buku sebagai penjaga kamarnya yang paling setia dan di baca hanya jika perlunya. Hal ini cukup membuat kita untuk mengelus dada kan?
            Dalam situasi seperti ini, jangan-jangan idiom—agent of change, agent of social control, iron stock, hanya isapan jempol belaka. baik pengetahuan, atau tindakan itu harus senantiasa diperbarui. Jangan sampai terpenjara dalam arus modernisasi yang minim substansi.
            Kita harus sadar bahwa jutaan orang diluaran sana berharap mendapatkan pendidikan yang layak. Kita sebagai kaum terdidik, malah didikte oleh keinginan dan nafsu pribadi untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan tanpa melihat kewajiban kita sebagai mahasiswa—pendidikan, bentuk konkretnya yakni membaca. Jika hanya ingin menjadi kolektor buku—Bibliomania, tak perlu repot repot menghabiskan waktu untuk kuliah!
            Sudah sepatutnya kita sadar, bahwa ambisi untuk membeli buku seharusnya dibarengi dengan ambisi untuk membacanya, ambisi untuk memahami dan memaknainya. Bukankah membaca merupakan salahsatu perintah Tuhan? 
            Terakhir, menyadur petuah Joseph Brodsky—sastrawan berkebangsaan Rusia—pemenang penghargaan nobel sastra 1987. Ia berkata bahwa, “ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku, salah satunya ialah dengan tidak membacanya”. Tak perlu berkecil hati.
            Tunggu apa lagi? Maksimalkan potensi yang ada demi kelangsungan hidup kita. Buktikanlah bahwa kita bukan makhluk purba, bukan pula makhluk primitif yang tak bisa membaca. Wallahu a’lam bi shawab~


[1]Mahasiswa Sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, aktif di Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kabupaten Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar