Qurban:
Ketauhidan dan Semangat Kemanusiaan Kita
Oleh:
Sahrul Anwar
Sumber Foto: Dokumen Pribadi
Dalam kajian sosiologi agama, Emile Durkheim
memberikan ciri daripada agama yakni, adanya ibadah, tempat ibadah, memiliki
kitab suci, dan mempunyai hari-hari yang disakralkan atau hari raya.
Islam yakni salahsatu agama yang
mencakup dari ciri-ciri agama tersebut. Dalam Islam pula, dikenal dengan dua
hari raya besar yakni idul adha dan idul fitri. Dan pada hari raya idul adha,
selain dilaksanakannya ibadah haji, juga dilaksanakannya ibadah qurban.
Seperti
tahun-tahun sebelumnya, kegiatan Qurban yang diadakan di Kampung Kararangge RW
02 Desa Gunungguruh Kecamatan Gunungguruh Kabupaten Sukabumi
selalu tersentralisasikan di Masjid Al-Ikhlas. Nyaris tak ada yang aneh dari
praksis pelaksanaan qurban itu sendiri. Akan tetapi pemaknaan terhadap qurban
dari tahun ke tahun sangatlah dinamis. Lalu muncul gagasan tentang
bagaimana kita membahas qurban yang sarat makna dengan kerangka yang lebih historis-teoritis, lalu diabadikan menjadi tulisan.
Baiklah,
berangkat dari buah pikir Michel Foucault—salahsatu sosiolog, dikenal dengan istilah
analisis wacana. Untuk menganalisis suatu wacana ada yang namanya genealogi. Genealogi
yakni membahas qurban sebagai suatu runtutan sejarah. Setidaknya kita akan
membahas fenomena qurban dalam kerangka teoritis tersebut.
Qurban dan Ketauhidan
Secara genealogi, Nabi Ibrahim yakni orang yang gemar menyerukan
tauhid, cerita tentang penghancuran berhala dan perwujudan ketauhidan
diabadikan dalam Q.S Maryam 41-49. Meskipun demikian, Nabi Ibrahim adalah
seorang manusia biasa yang berkeluarga dan mempunyai istri yang mandul bernama
Siti Sarah, seperti manusia biasa lainnya ia ingin mempunyai seorang anak. Atas
anugerah Allah SWT melalui hamba perempuannya bernama Siti Hajar Nabi Ibrahim
dikarunia anak bernama Ismail.
Bagi Nabi Ibrahim, Ismail adalah puteranya sendiri, sesekali
mungkin belahan hidupnya. Ismail tumbuh di bawah asuhan dan kasih sayang
seorang bapak, dan kelahiran Ismail begitu didambakan oleh ayahnya dan tidak
diduga-duga. Lalu turunlah perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail puteranya.
Hal ini diabadikan dalam Q.S As-Saffat 99-111.
Tak bisa dibayangkan begitu guncangnya batin Nabi Ibrahim.
Sungguhlah, jihad yang paling besar yakni memerangi diri sendiri. Nabi Ibrahim
harus memilih: mengikuti perasaan hatinya untuk menyelamatkan buah hatinya atau
mentaati perintah Allah dengan menyembelihnya. Ia harus memilih cinta terhadap
anaknya atau kebenaran yang merupakan agamanya.
Pada akhirnya Ismail digantikan oleh seekor domba ketika
dikorbankan di lembah Mina, mengapa harus domba? Sebab domba perlambang dari
kekayaan masyarakat nomaden di Jazirah
Arab. Dengan demikian, siapapun yang berani mengobrankan harta yang dicintainya
untuk kepentingan banyak orang. Sungguhlah ia telah ber-Qurban.
maka di tempat dimanapun
engkau berada ketika membaca tulisan ini, siapakah “Ismailmu”? apakah ia
Pangkatmu? Hartamu? Kekasihmu? Handphonemu? Kebiasaanmu? Bersegeralah untuk
dikorbankan. “Ismailmu” ialah setiap sesuatu yang melemahkan imanmu, setiap
sesuatu yang membuat engkau enggan untuk menerima tanggung jawab, setiap
sesuatu yang engkau memikirkan dirimu sendiri. Setiap sesuatu yang membuat engkau
tidak dapat mendengar perintah Allah SWT. mungkin sekali, “Ismailmu” ialah
kedudukanmu, pangkatmu, hartamu, kekasihmu. Sedangkan Nabi Ibrahim mengorbankan
puteranya sendiri. Inilah wujud konkret daripada nilai-nilai luhur dalam rangka
mengesakan Allah SWT.
Qurban dan Kesalehan Sosial
Semua ritus
ibadah dalam Islam selalu berdimensi sosial. Qurban menjadi salahsatu ritus
yang paling mudah ditangkap maksudnya. Memaknai qurban sebagai sarana mendekatkan
diri kepada Tuhan dan sekaligus melekatkan ikatan sosial. Inilah bentuk nyata
dari istilah “Hablum mina allah wa hablum mina an-naas” (hubungan
simultan antara manusia dengan Allah dan sesamanya).
Selain dari pada itu, esensi
daripada qurban yakni menekankan bahwa Islam mengajarkan keadilan distributif.
Terbukti dari 2/3 hasil daripada qurban harus dibagikan. Selain menebarkan
daging ke dapur-dapur mereka untuk dimasak, juga menebarkan kebaikan,
menebarkan keadilan, menebarkan kesadaran bahwa kita itu makhluk sosial.
Tiba dikesimpulan bahwa menurut
Nurcholish Madjid penghayatan akan agama yakni urusan pribadi. Tapi, tanggung
jawab sebagai orang yang beragama diemban secara kelompok. Fenomena qurban
menjadi sarana untuk tetap berada dalam titik keseimbangan; antara ketuhanan
dan kemanusiaan. Mempersembahkan binatang ternak untuk mendekatkan diri kepada
Allah SWT ialah Qurban. Tetapi, menyembelih binatang ternak demi
pengorbanan—tanpa keikhlasan hanyalah “penjagalan”. Wallau’alam bi shawab~
Sumber Bacaan:
Madjid, Nurcholish. Umrah dan Haji:
Perjalanan Religius. Cet III, 2008. Jakarta: Dian Rakyat.
Syariati, Ali. Haji. Terj: Anas
Mahyuddin. Cet IV, 2000. Bandung: Pustaka.
Qurban: Ketauhidan dan Semangat Kemanusiaan Kita
Tulisan
Tanpa Judul
Oleh:
Sahrul Anwar
“.....dan hanya kepada Allah orang-orang beriman
harus bertawakal (Q.S At-Taubah:51)”
Barangkali agak aneh jika aku harus menamai tulisan ini
tanpa judul. Tapi itu bukan suatu masalah daripada aku harus melamun dan
menatap laptop tanpa aku gerakkan jari-jariku dari kefanaan pikiran menuju
keabadian ‘karya’, begitu pikirku.
Memang karya yang tidak seberapa, tapi begitulah manusia,
mungkin pandangan umum bergunanya seseorang tergantung atas karya apa yang
dihasilkan—khususnya untuk diri sendiri dan umumnya bagi khalayak. Alih-alih
untuk berkarya, bagiku menulis bukan soal berguna atau tidaknya seseorang,
apalagi untuk ‘keren-kerenan’. Menulis menjadi semacam aktivitas yang harus
terlembagakan, bukan untuk kalangan akademisi saja, tapi siapapun yang mampu
berpikiran jernih, analisis tajam, mengupas suatu persoalan menjadi rangkaian
kata yang terdeskripsikan, tranformasi informasi dan pengetahuan.
Tulisan tak jelas
ini aku tulis diawal hari tanggal 22 Maret 2020 sekitar pukul 02.13, setelah
sebelumnya tidur kurang lebih 1 jam. Berat rasanya jika mata harus cepat-cepat
menatap dunia. Aku menulis bukan karena peradaban manusia tidak terlepas dari
teks. Aku hanya ingin sedikit berkeluh kesah perihal badai dalam pikiran dan
mengakibatkan galau dihati.
Seperti kebiasaanku kala menulis, harus ditemani kopi dan
dengan beberapa batang rokok. Aku termenung, kebiasaanku ini mungkin sangat
sinergis dengan keresahan yang ingin aku curahkan dalam tulisan ini—yakni KEBEBASAN.
Kebiasaanku ketika menulis harus dibarengi kopi dan rokok
itu menjadi seolah-olah hal yang tidak bisa dilewatkan. Disisi lain dibelahan
bumi manapun manusia hidup, dengan latar belakang pendidikan apapun, beragama
apapun, berideologi apapun, selain keadilan—pasti juga memuja kebebasan, begitu
pula aku.
Ketika menulis, aku merasa bebas mengejawantahkan segala
macam gagasan, wacana, ide, baik yang konkret atau abstrak sekalipun. Karena kebiasaanku—menulis
harus ditemani oleh kopi dan rokok, aku masih saja tetap terbelenggu, bisa
jadi, orang-orang yang memposisikan kebebasan menjadi sesuatu yang layak
diperjuangkan, ia pun masih terbelenggu dengan kebebasan itu sendiri.
Tak bisa menafikan dan menampik keadaan, aku pun
kewalahan dengan pemikiranku sendiri. Tulisan tak berjudul ini mungkin pula
wujud konkret daripada kebebasan. Memilih bebas atau tidak bebas—terbelenggu itu
pun suatu kebebasan bukan?
Term kebebasan sudah sedemikian menyeleweng dan menjadi
kabur maknanya, dalam situasi distorsi
semacam ini, bukan tak mungkin kebebasan seseorang ditambah dan direduksi.
Nurcholish Madjid telah memberitahu kita bahwa kebebasan
seseorang itu mutlak. Dalam relasi sosiologis, kebebasan seseorang dibatasi
oleh kebebasan orang lain. John Locke pun mengatakan bahwa adanya kontrak
sosial pun tidak lain dan tidak bukan untuk menjamin kebebasan seseorang. Bahkan,
Jean Paul Sartre bilang bahwa manusia dikutuk untuk bebas.
Aku sangat sepakat dengan Sartre bahwa manusia dikutuk
untuk bebas, tapi karena sosio-kultur membuat situasi dan keadaan semakin rumit
dan kompleks. Hingga adanya perbudakan, penindasan—yang menegasikan kebebasan.
Jika kita buka kembali al-Quran—pedoman hidup umat
manusia ‘katanya’, disana dijelaskan bahwa ada jalan yang sukar ditempuh dan
berliku—selain memberi makan bagi kelaparan, menyantuni anak yatim dan fakir
miskin, tetapi juga melepaskan perbudakan menuju kebebasan (Baca: Al-Balad:
12-16).
Tuhan menginginkan makhluknya bebas, manusia menjadikan
dirinya terbelenggu. Banyak sekali ayat-ayat, ajaran, dan nilai agama Islam
yang mengajarkan makhluknya untuk bebas—dengan menegasikan perbudakan.
Jika pun dalam kehidupan—atau di negara kita lalu dihadapkan
pada kondisi ketidakadilan, kebatilan, sistem yang korup, dan maraknya
penindasan. Jika memang kita orang beriman, kita harus melawan. Sungguh Allah
hidup bersama orang-orang yang tertindas—demi memperjuangkan kebebasan.
Maha
suci Allah dengan segala rahmatnya, sang khalik—maha tahu dengan apa yang baik
untuk makhluknya. Boleh jadi kamu senang akan sesuatu tapi itu buruk bagimu, boleh jadi kamu tidak menyukai
sesuatu tapi itu amat baik bagimu (Baca: Al-Baqarah: 216). Sudah tidak ada lagi
alasan untuk tidak beriman, dan betul-betul menginsyafi bahwa Dzat-Nya lah maha
mengetahui dan sebaik-baiknya tempat kembali. Wallahu’alam bi shawab~
Tulisan Tanpa Judul
COVID-19
Dan Segala Persepsi Tentangnya
Oleh:
Sahrul Anwar[1]
Email:
sahrulanwar031@gmail.com
Sumber foto:
Kompas.com
”dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui didalamnya...(Q.S
17:36)”
Tulisan ini mungkin tidak sesempurna orang-orang yang
berkhotbah tentang implikasi Corona Virus
Disease (COVID-19) terhadap ekonomi, sosial, politik. Agaknya, tidak
berlebihan pula jika penulis mengatakan bahwa tidak ada kata yang terucap
akhir-akhir ini disetiap harinya selain daripada kata ‘corona’.
Alasan penulis angkat bicara pada persoalan ini pun bukan
untuk ‘sok tahu’ menyoal tentang corona,
bukan pula membahas secara historis, sebab akibat, dan gejala terkena corona, penulis hanya melihat realitas baik
di dunia nyata atau bahkan di dunia maya—dari berbagai kalangan yang setiap
orang seakan-akan ‘wajib’ untuk berbicara tentang virus corona ini.
Berangkat dari gema informasi itulah, penulis hendak menggerakkan setiap jari
jemarinya terlepas dari kekurangannya dari setiap paragraf yang dituliskan.
Di dunia nyata, rasa waspada dan kehati-hatian dipelihara
hingga pada titik ekstrem. Sampai-sampai seseorang yang pilek, demam, gatal
tenggorokan, mencurigai dirinya sendiri terkena corona. Begitu orang lain mendengar hal tersebut, ia pun semakin
waspada untuk memberi jarak agar tidak dekat dengannya.
Begitupun
orang yang merasa dirinya ‘agamawan’ menganggap bencana ini merupakan kehendak
Tuhan, hukuman Tuhan terhadap umat manusia—seperti halnya tokoh Paneloux dalam
karya Albert Camus berjudul Sampar. Orang-orang yang rela membeli hand sanitizer dan masker yang harganya 3 kali lipat dari harga biasanya dengan alasan
upaya preventif penyebaran virus corona.
Ada pula golongan masyarakat yang mengacuhkan persoalan virus corona ini dengan masih tetap beraktivitas diluar rumah, ia
beranggapan bahwa kematian adalah takdir Tuhan.
Dalam kondisi bernegara, 15 Maret 2020 pemerintah pun menerapkan
kebijakan social distancing—menjaga
jarak dari kerumunan, dan melakukan aktivitas di rumah, dalam kurun waktu 2
minggu. Anehnya, banyak dari kita yang mengglorifikasikan bahwa RI ‘Lockdown’. Lockdown artinya mengisolasi suatu wilayah, memberhentikan setiap
aktivitas, dan mencukupi kebutuhan setiap masyarakat kurang lebih selama waktu
yang ditentukan. Presiden Jokowi pun menuturkan bahwa “Tidak ada kita berpikir
pada kebijakan lockdown”. Seperti
yang diberitakan di CNBC Rabu, (18/3/20).
Begitulah kita, selalu menggunakan kata yang kita sendiri
tidak tahu artinya, karena banyak yang mengucapkan kata tersebut, seolah
kebenaran ditentukan oleh banyaknya orang yang berpendapat tentang hal itu.
Kebodohan yang dipertontonkan itu merupakan implikasi informasi yang dilahap
tanpa dicerna dan tak dipertimbangkan kebenaran maknanya.
Penulis pun mengklaim bahwa ketakutan karena virus corona lebih cepat hinggap
dikepala setiap orang dibandingkan pengetahuan seseorang tentang virus corona. Dalam situasi pra-kognisi
itulah ketakutan dan kecemasan itu lahir. Meskipun begitu, tabiat manusia ialah
survive—dari mulai saat zaman berburu
dan meramu pun manusia selalu mencari solusi dari setiap permasalahan. Walaupun solusi itu yang nantinya akan menjadi
suatu persoalan kembali tapi kita tak bisa pungkiri kita hidup dalam dunia yang
dinamis dan penuh dialektika dalam setiap perjalanannya.
Banyaknya persepsi yang tampak baik di dunia maya atau
dunia nyata merupakan bentuk daripada reaksi atas permasalahan yang terjadi dan
dikonstruksi oleh faktor internal
seperti pemahaman diri sendiri, dan faktor eksternal seperti masyarakat,
lingkungan sekitar, dan media.
Tiba diakhir tulisan, penulis sadar bahwa keberagaman pendapat merupakan bagian daripada kehidupan, begitupun bencana. Rasanya tidak berlebihan jika kita berharap agar kita selalu berada dalam
kesehatan dan yakin bahwa Tuhan yang maha esa-lah sebaik-baiknya penolong. Wallahu a’lam bishawab~
COVID-19 Dan Segala Persepsi Tentangnya
Bibliomania
dan Ambisi Kita
Oleh:
Sahrul Anwar[1]
Sumber: cnnindonesia.com
Selepas zaman pra-aksara, peradaban
kita tak terlepas dari budaya tulis menulis. Menulis bukan untuk keren-kerenan,
namun memanifestasikan gagasan dan memformulasikan ide untuk konsumsi pribadi
atau ditampilkan di muka publik.
Tak bisa terelakkan, banyak sekali
orang yang tergugah hatinya untuk memulai menulis atau menghibahkan hidup hanya
untuk menulis. Dari mulai novelis asal Brazil yang novel-novelnya tendensi
spiritualis dan mendapat penghargaan International
Best Seller—Paulo Coelho, sampai novel yang bucinnya tak tertolong semisal
Fiersa Besari atau Boy Chandra.
Tentunya aku turut bangga terhadap
mereka—atau siapapun yang telah menulis, karenanya kita lebih sadar terhadap
segala persoalan yang kita hadapi, baik persoalan yang konkret atau abstrak
sekalipun.
Akan
tetapi, aku lebih bangga terhadap mereka yang menghargai dan mengapresiasi
hasil tulisan orang lain dengan cara membacanya. Membaca berarti mentrasmisikan
makna dari apa yang terlihat oleh indera menjadi semacam konsepsi dalam isi
kepala. Syukur-syukur pengetahuan itu dibagikan kepada orang lain, atau paling
tidak menjadi perenungan untuk diri sendiri.
Sebelum aku teruskan, kawanku berujar seperti
ini, “Yaampun kuliah udah mau selesai, sebentar lagi wisuda. Buku udah hampir
satu lemari tapi tak ada satu buku pun yang
selesai dibaca. Itupun dibeli atas dasar perintah dosen atau keinginan membeli
di toko buku karena judulnya menarik. Paling tidak, aku baca buku kalau ada
tugas!”. Lucu ya?
Disisi lain, aku sangat yakin ada
pula sebagian mahasiswa yang konsisten untuk membaca atau menulis. Tapi fakta
akan adanya mahasiswa yang jemawa dan angkuh yang tak terkira dengan tidak membaca
buku yang sudah ia beli pun, jelas tak kalah banyak.
Bahkan banyak sekali, lelaki sibuk
dengan game online, perempuan sibuk dengan penampilan dan hunting makanan favorit untuk kebutuhan konten di sosial media,
secara berjamaah, mereka menjadikan buku sebagai penjaga kamarnya yang paling
setia dan di baca hanya jika perlunya. Hal ini cukup membuat kita untuk mengelus
dada kan?
Dalam situasi seperti ini, jangan-jangan
idiom—agent of change, agent of social
control, iron stock, hanya isapan jempol belaka. baik pengetahuan, atau
tindakan itu harus senantiasa diperbarui. Jangan sampai terpenjara dalam arus
modernisasi yang minim substansi.
Kita harus sadar bahwa jutaan orang
diluaran sana berharap mendapatkan pendidikan yang layak. Kita sebagai kaum
terdidik, malah didikte oleh keinginan dan nafsu pribadi untuk melakukan apa
yang ingin kita lakukan tanpa melihat kewajiban kita sebagai mahasiswa—pendidikan,
bentuk konkretnya yakni membaca. Jika hanya ingin menjadi kolektor buku—Bibliomania, tak
perlu repot repot menghabiskan waktu untuk kuliah!
Sudah sepatutnya kita sadar, bahwa
ambisi untuk membeli buku seharusnya dibarengi dengan ambisi untuk membacanya,
ambisi untuk memahami dan memaknainya. Bukankah membaca merupakan salahsatu
perintah Tuhan?
Terakhir, menyadur petuah Joseph
Brodsky—sastrawan berkebangsaan Rusia—pemenang penghargaan nobel sastra 1987. Ia
berkata bahwa, “ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku, salah
satunya ialah dengan tidak membacanya”. Tak perlu berkecil hati.
Tunggu apa lagi? Maksimalkan potensi
yang ada demi kelangsungan hidup kita. Buktikanlah bahwa kita bukan makhluk
purba, bukan pula makhluk primitif yang tak bisa membaca. Wallahu a’lam bi shawab~
[1]Mahasiswa Sosiologi Universitas Islam
Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, aktif di Himpunan Mahasiswa Islam Cabang
Kabupaten Bandung
Bibliomania dan Ambisi Kita
Langganan:
Komentar (Atom)


